Loreng Itu Datang Membawa Air: Penantian Puluhan Tahun Warga Pasar Rawa Berakhir

LANGKAT, WasantaraPos.com — Sudah terlalu lama warga Dusun III Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, hidup dengan air keruh. Warnanya kekuningan, rasanya payau, dan tak layak diminum. Bertahun-tahun mereka mandi, mencuci, bahkan memasak dengan air seadanya.

Tak banyak yang peduli. Sampai truk tentara masuk ke desa itu.

Prajurit TNI dari Kodim 0203/Langkat datang membawa mesin bor, pipa besi, dan semangat yang tak ikut surut meski hujan mengguyur lokasi pekerjaan. Di tengah lumpur dan panas menyengat, seragam loreng itu bekerja tanpa banyak bicara.

READ  Prajurit Antar Makan Gratis hingga ke Meja Kelas, Siswa SMK Gebang Sambut Antusias

Mereka mengebor tanah hingga kedalaman 140 meter. Lalu air itu keluar. Jernih.

Warga bertepuk tangan. Sebagian tak percaya air sebening itu akhirnya mengalir di kampung mereka.

“Dari tahun 2012 saya tinggal di sini, baru kali ini ada air bersih layak diminum,” kata Latifah, 69 tahun, warga Dusun III Pasar Rawa, Selasa, 12 Mei 2026.

Suara nenek tiga cucu itu terdengar lirih, tetapi wajahnya tak bisa menyembunyikan rasa lega. Selama bertahun-tahun, ia hidup dengan air sumur yang keruh dan tidak sehat. Kini, air dari sumur bor TMMD dipakai warga untuk mandi, mencuci pakaian, hingga memasak.

READ  TNI, Doa, dan Cara Baru Negara Hadir di Desa

“Alhamdulillah. Sekarang kami minum dari air bantuan bapak-bapak tentara,” ujarnya.

Air bersih itu datang melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128 Kodim 0203/Langkat. Sedikitnya lima titik sumur bor dibangun di Desa Pasar Rawa dan Kelantan Luar lewat program TNI Manunggal Air Bersih (TMAB).

Komandan Satgas TMMD ke-128, Letkol Inf Medwin Sangkakala, mengatakan pekerjaan tersebut bukan perkara mudah. Mesin bor sempat terhenti karena hujan deras. Tanah keras membuat pengeboran berjalan lambat. Namun personel Satgas terus bekerja bersama warga dan anggota Polri.

READ  Prajurit TMMD Pasang Tandon Air Bersih untuk Warga Pesisir Langkat

Tak ada yang mundur.

“Ini bukan sekadar membangun sumur. Kami ingin masyarakat benar-benar merasakan manfaatnya,” kata Medwin.

Di lokasi pembangunan, wajah-wajah prajurit terlihat kusam oleh lumpur dan debu. Seragam loreng mereka basah oleh keringat. Tetapi tangan-tangan itu tetap mengangkat pipa dan menyambung saluran air.

Di Pasar Rawa, warga akhirnya punya cerita baru tentang tentara.

Bukan tentang perang. Melainkan tentang air bersih yang akhirnya datang bersama loreng hijau.