Diplomasi “Baju Hijau” di Arena Medis Internasional

Headline140 Dilihat

SIEM REAP, WasantaraPos.com — Di balik meja bundar Empress Angkor Resort, Siem Reap, Kamboja, akhir pekan lalu, posisi Indonesia tampak cukup dominan.

Pusat Kesehatan (Puskes) TNI tidak hanya datang untuk hadir, melainkan memainkan peran kunci sebagai salah satu penggerak utama dalam ASEAN Chiefs Military Medicine Conference (ACMMC) ke-13 yang digelar pada 28–30 Juni 2026.

​Kepala Pusat Kesehatan TNI, Mayor Jenderal TNI dr. Hadi Juanda, Sp.PD., MARS., CfrA., yang memimpin delegasi Indonesia, membawa agenda besar bagi postur kesehatan militer nasional.

Di hadapan para kolega dari sembilan negara ASEAN lainnya, Hadi menyoroti urgensi modernisasi kapasitas respons militer. Posisinya sebagai Head of Delegate (HOD) menegaskan bahwa Indonesia kini menjadi salah satu episentrum perumusan kebijakan medis militer di kawasan.

READ  Sujud di Pesisir Rawa: Ketika Seragam Merunduk Khusyuk

​Puskes TNI terlihat sangat serius membawa misi Enhancing ASEAN Military Readiness and Resilience in the Face of CBRN Threats”.

Ancaman Chemical, Biological, Radiological, and Nuclear (CBRN) bukan lagi sekadar wacana di meja kerja Puskes TNI. Mereka mendorong sinkronisasi standar operasional di seluruh militer ASEAN agar mampu bergerak cepat saat terjadi krisis, baik itu ancaman biosiber, pandemi, hingga bencana kemanusiaan.

READ  Misi Kemanusiaan di Sibolga: TNI Matangkan Rencana Pacific Partnership 2026 di Oregon

​”Puskes TNI ingin memastikan bahwa kesehatan militer kita tidak hanya reaktif, tapi juga antisipatif,” ujar sebuah sumber yang memahami manuver delegasi Indonesia di Kamboja.

​Keberhasilan Puskes TNI dalam forum ini juga terlihat dari bagaimana mereka meramu regenerasi.

Dengan membawa Kolonel Ckm dr. Bayu Dewanto, Sp.BS, sebagai Senior Delegate dan Lettu Laut (K/W) dr. Putri Rahayu di ajang Young ASEAN Military Medicine Officer (YAMMO), Puskes TNI seolah ingin memamerkan bahwa mereka memiliki cetak biru kaderisasi yang solid.

Kompetisi riset ilmiah yang diikuti perwira muda TNI itu menjadi bukti bahwa Puskes TNI sedang bertransformasi menjadi institusi berbasis riset yang diakui di Asia Tenggara.

READ  Babinsa Dampingi Distribusi Makan Bergizi Gratis di SD Negeri 060801 Medan

​Ketika estafet keketuaan ACMMC diserahkan dari Kamboja kepada Laos untuk 2027, Indonesia melalui Puskes TNI, telah meninggalkan jejak penting. Mereka sukses memposisikan diri bukan sekadar pengikut, melainkan inisiator yang menentukan arah bagaimana militer di Asia Tenggara harus merespons ancaman kesehatan di masa depan.

​Bagi Puskes TNI, konferensi ini adalah pembuktian bahwa diplomasi kesehatan bukan hanya soal obat dan rumah sakit, melainkan soal seberapa tangguh sebuah militer dalam melindungi kedaulatan dari ancaman yang tidak tampak.