SIDIKALANG, WasantaraPos.com – Kabut tipis yang menyelimuti Desa Sidiangkat, Kabupaten Dairi, perlahan tersingkap saat iring-iringan kendaraan dinas memasuki kawasan Jalan Runding No. 114, Kamis (2/7/2026).
Pagi itu, Markas Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 908/Gaja Dompak tidak sekadar bergeming oleh rutinitas barak.
Ada agenda penting: inspeksi perdana Pangdam I/Bukit Barisan, Mayjen TNI Hendy Antariksa, ke satuan yang baru saja mengukuhkan diri di tanah Dairi tersebut.
Begitu turun dari kendaraan, Hendy disambut laporan resmi Wadanyonif TP 908/GD, Kapten Inf Helda Pragas Setyawan.
Prosesi kemudian berlanjut dengan tradisi lokal yang kental; pengalungan Ulos Bulang-Bulang Pakpak. Ini bukan sekadar seremoni penerimaan tamu, melainkan simbol “penerimaan” masyarakat adat terhadap kehadiran batalyon ini di tengah tanah leluhur mereka.
Namun, di balik keramahan tradisi, nada bicara Hendy segera berubah saat memasuki aula pengarahan. Menghadapi ratusan prajurit, mayoritas wajah-wajah muda yang baru saja menyelesaikan pendidikan, Hendy bicara blak-blakan. Ia menekankan bahwa status sebagai batalyon “Teritorial Pembangunan” adalah sebuah tanggung jawab moral yang berat.
”Mayoritas kalian adalah prajurit baru. Jangan sampai identitas militer kalian memudar menjadi sekadar rutinitas,” ujar Hendy di hadapan personel Yonif 908/GD dan perwakilan Kodim 0206/Dairi. Ia menegaskan, fondasi prajurit, mulai dari Sapta Marga, Sumpah Prajurit, dan Delapan Wajib TNI, bukanlah pajangan administratif. “Itu adalah kompas moral kalian di sini,” imbuhnya.
Uji Nyali di Lahan Pertanian
Gaya kepemimpinan Hendy yang detail terlihat saat inspeksi lapangan. Ia tak sekadar duduk di ruang komando. Bersama Kasdam I/BB, Asops Kasdam, serta para komandan satuan pendamping, Hendy memeriksa tiap sudut markas.
Dari kondisi tenda tempat tinggal prajurit hingga sanitasi dapur dan ruang makan, semua diperiksa.
Pangdam memberikan perhatian khusus pada “wajah lain” batalyon ini: fasilitas pendukung ketahanan pangan. Di area belakang markas, ia meninjau langsung kompi peternakan dan lahan pertanian. Baginya, prajurit modern tidak boleh hanya bergantung pada pasokan logistik komando atas.
”Prajurit harus mampu menghidupi dirinya sendiri dan memberi manfaat bagi lingkungan. Lihat bibit-bibit tanaman ini, ini simbol kemandirian. Jika kalian bisa membangun ketahanan pangan di markas sendiri, masyarakat akan melihat kalian sebagai mitra yang berdaya,” tutur Hendy.
Pesan untuk Masyarakat
Salah satu poin paling krusial dalam kunjungan ini adalah instruksi Hendy mengenai cara berinteraksi dengan warga. Ia sadar, kehadiran batalyon baru seringkali menimbulkan kecemasan atau jarak psikologis dengan warga lokal.
Ia memerintahkan anak buahnya untuk tidak menonjolkan ego sektoral. Sebaliknya, ia menuntut prajurit Yonif 908/GD untuk bersikap rendah hati.
“Kehadiran TNI di Dairi bukan untuk menakut-nakuti. Jadilah bagian dari solusi bagi warga. Jika ada masalah di lapangan, selesaikan dengan cara yang humanis,” tegasnya.
Kunjungan yang ditutup dengan foto bersama dan pemberian cenderamata ini menjadi titik start bagi Yonif 908/GD. Bagi Hendy, batalyon ini adalah eksperimen strategis Kodam I/BB dalam memadukan kekuatan tempur dengan peran pembangunan teritorial.
Kini, tugas besar berada di pundak para prajurit muda Gaja Dompak. Di tengah hawa dingin Sidikalang, mereka harus membuktikan bahwa semboyan “Teritorial Pembangunan” bukan sekadar label, melainkan wujud nyata pengabdian di tanah Dairi.






