JAKARTA, WasantaraPos.com – Di atas kertas, MinyakKita adalah pahlawan bagi kantong masyarakat kecil. Namun di lapangan, selisih harganya yang kian jomplang dengan minyak kemasan premium justru menciptakan “lubang” yang menggiurkan bagi para pemburu rente.
Di balik label harga subsidi itu, ada aroma spekulasi yang mulai tercium.
Direktur Eksekutif PASPI, Tungkot Sipayung, memberikan sinyal waspada. Ia mencatat bahwa saat ini sedang terjadi pembelahan pasar yang ekstrem.
Per April 2026, harga minyak goreng premium sudah bertengger di angka Rp21.793 per liter, sementara MinyakKita masih dipaksa “tiarap” di kisaran Rp15.949 per liter.
”Disparitas harga yang mencapai hampir Rp6.000 ini adalah ujian konsistensi. Ada celah keuntungan yang sangat besar di sana,” ujar Tungkot kepada Majalah Sawit Indonesia, Jumat pekan lalu.
Godaan di Tengah Badai Global
Celah ini kian lebar seiring mendidihnya konflik di Timur Tengah. Lonjakan harga energi fosil telah menyeret harga minyak sawit mentah (CPO) dunia ke level US$1.120 per ton.
Bagi produsen, menjual minyak ke pasar internasional atau ke segmen premium jauh lebih menguntungkan ketimbang memenuhi kewajiban pasok dalam negeri (Domestic Market Obligation).
Kondisi inilah yang memicu kekhawatiran PASPI. Lebarnya jurang harga antara si “botol murah” dan minyak premium menjadi insentif bagi oknum nakal di tingkat distribusi hingga ritel untuk bermain api.
Siasat Pengalihan Stok
Praktik “migrasi gelap” menjadi ancaman nyata. Dengan selisih harga yang menggiurkan, stok MinyakKita rawan dialihkan secara ilegal ke segmen komersial atau dikemas ulang untuk dijual dengan harga pasar.
Tungkot menilai, meskipun pemerintah telah memasang instrumen bea keluar dan pungutan ekspor untuk mengunci pasokan, lubang di rantai distribusi masih menganga.
Apalagi, biaya kemasan plastik yang membengkak akibat kenaikan harga minyak dunia membuat margin produsen kian tipis, yang berujung pada potensi penyesuaian Harga Eceran Tertinggi (HET).
Secara teoritis, kebijakan DMO-DPO cukup kuat menjaga stabilitas.
Namun, jika pengawasan di lapangan bolong, tujuan melindungi masyarakat berpenghasilan rendah bisa kandas oleh mereka yang mengejar cuan di tengah celah harga,” pungkas Tungkot.
Kini, bola panas ada di tangan pemerintah. Tanpa pengawasan yang ketat, MinyakKita yang diniatkan sebagai pelampung rakyat justru bisa menjadi bancakan para spekulan yang pandai mengintip celah.






