Minyakita Tak Langka, Tapi HET Tinggal Pajangan

Ekonomi, Headline, News50 Dilihat

MEDAN, WasantaraPos.com — Pemerintah memastikan stok Minyakita aman. Bulog turun ke pasar. Spanduk Harga Eceran Tertinggi (HET) dipasang besar-besar. Tapi di lapangan, harga minyak goreng rakyat itu tetap melonjak tanpa rasa takut.

Sabtu itu, Wakil Direktur Utama Bulog, Marga Taufiq, berkeliling ke Pasar Sei Sikambing dan Pusat Pasar Medan. Pesannya sederhana: stok aman, distribusi terkendali.

Namun hanya beberapa langkah dari rombongan sidak, fakta berbicara sebaliknya.

Dari tiga toko penerima distribusi Minyakita di Pusat Pasar, cuma satu yang menjual sesuai aturan. Toko Bintang Mas memasang harga Rp15.500 per liter. Dua toko lain terang-terangan menjual Rp18 ribu sampai Rp19 ribu, melewati HET pemerintah Rp15.700.

Ironisnya, spanduk Bulog tentang HET tetap tergantung jelas di depan toko. Aturan dipasang, tapi tak benar-benar berlaku.

Situasi memanas di Jalan Veteran. Tim Bulog terlibat adu mulut dengan pemilik toko yang menolak memasang pengumuman HET. Ancaman pun keluar: pasokan Minyakita bisa dihentikan bila toko tidak patuh.

READ  Saat Alat Berat Grader dan Prajurit Turun, Jalan Rusak Pasar Rawa Perlahan Menghilang

Masalahnya ternyata lebih rumit dari sekadar spanduk.

Pedagang mengaku harga tak mungkin bertahan di angka HET karena biaya distribusi kini dibebankan ke mereka. Ongkos bongkar muat, pengangkutan, hingga biaya tambahan lain membuat margin makin tipis.

“Sekarang semua biaya ditanggung pedagang,” ujar seorang penjual di Pasar Sukaramai.

Di pasar itu, tiga kios di lantai dua kompak menjual Minyakita Rp18 ribu per liter. HET perlahan berubah hanya menjadi angka di baliho pemerintah terlihat jelas HET Rp. 15.700 perliter, tapi tak dipakai.

READ  Misi Kemanusiaan di Sibolga: TNI Matangkan Rencana Pacific Partnership 2026 di Oregon

Namun tidak semua pedagang menyerah pada keadaan. Di sekitar Pasar Sukaramai dan Pasar Akik, Toko Naga Mas masih menjual sesuai ketentuan: Rp15.700 per liter.

Fakta itu menjadi tamparan tersendiri. Artinya, harga sesuai aturan sebenarnya masih mungkin dilakukan. Persoalannya tinggal: siapa yang mau patuh, dan siapa yang dibiarkan melanggar.

Pemimpin Wilayah Bulog Sumatera Utara, Budi Cahyanto, mengatakan tambahan pasokan 1,6 juta liter telah diajukan untuk menjaga stabilitas menjelang Iduladha.

Tapi bagi warga, stabilitas bukan soal gudang penuh atau angka stok di atas kertas. Yang mereka cari sederhana: minyak goreng murah yang benar-benar bisa dibeli dengan harga wajar.