Di Balik Ulos dan Dapur Prajurit Serdang Bedagai

SERDANG BEDAGAI — Senyum Mayjen TNI Hendy Antariksa tersungging tipis saat sehelai ulos disampirkan di bahunya. Senin pagi, 13 Juli 2026, Markas Yonif TP 902/Sri Paduka Gocah (SPG) di Desa Dolok Nampung, Sumatera Utara, mendadak senyap.

Kehadiran Panglima Kodam I/Bukit Barisan ini bukan untuk urusan basa-basi. Ia datang membawa “kaca pembesar” untuk mengukur sejauh mana disiplin dan kemandirian satuan di pelosok Serdang Bedagai itu bertahan.

​Di lapangan upacara, di antara deretan prajurit yang tegak bak tugu, Hendy berbicara soal realitas zaman. Ia tidak hanya bicara tentang taktik tempur. Fokusnya menyasar pada dua musuh masa kini: kelalaian digital dan degradasi fisik.

READ  Ruko "Siluman" dan Wajah Buram Penegakan Perda di Medan Deli

​”Jempolmu bisa menjadi musuhmu sendiri,” begitu kira-kira inti peringatan yang ia sampaikan soal media sosial.

Bagi Hendy, profesionalisme prajurit modern tidak lagi hanya diukur dari presisi tembakan di lapangan tembak, tetapi juga dari kebijaksanaan mereka mengelola privasi di ruang siber.

Satu unggahan yang meleset, ia mewanti-wanti, bisa menyeret marwah institusi ke dalam lumpur.

READ  Pangdam I/BB dan Ketua Yayasan Kartika Jaya Letakkan Batu Pertama Pembangunan SMK Kartika I-3 Medan

​Namun, Hendy tak ingin hanya menjadi komandan yang gemar berteori di belakang podium. Setelah memberi arahan, ia melangkah menjauh dari barisan protokol.

Sepatunya menyusuri tanah becek di area pengembangan satuan. Ia tidak hanya melihat pangkalan atau barak. Pandangannya justru tertuju pada petak-petak kebun, kolam ikan, dan kandang ternak yang dikelola oleh prajurit.

​Bagi Hendy, kemandirian satuan adalah harga mati. Ia ingin memastikan bahwa saat negara memanggil, Yonif TP 902/SPG tidak akan sibuk mengurus logistik yang tersendat. “Kemandirian itu lahir dari dapur dan lahan kita sendiri,” ucapnya di sela-sela peninjauan.

READ  Langkah Prajurit di Tengah Debu Pasar Rawa, Jalan Rusak Itu Kini Hampir Tuntas

​Kunjungan itu berakhir dengan goresan pena di buku catatan satuan. Tak banyak kata, namun maknanya jelas: kesiapan adalah napas setiap prajurit.

Saat rombongan kecil yang terdiri dari Kasdam dan para komandan setempat beranjak pergi, yang tertinggal di Dolok Nampung adalah standar baru yang harus dijaga: prajurit yang cakap teknologi, bugar secara fisik, dan mandiri secara pangan