Di Usia 76, Mayjen Hendy: “Prajurit Itu Kunci, Rakyat Itu Nyawa”

MEDAN, WasantaraPos.com — Ada yang kontras di Gedung Manunggal, Makodam I/Bukit Barisan, Senin, 22 Juni 2026. Di balik kemegahan acara syukuran Hari Ulang Tahun (HUT) ke-76 Kodam I/Bukit Barisan yang digelar di lantai dua gedung tersebut, Pangdam I/BB Mayjen TNI Hendy Antariksa justru memilih bicara soal hal-hal yang mendasar: ketulusan dan keringat di lapangan.

​Di atas podium, sang jenderal bintang dua itu tak ingin perayaan ini sekadar menjadi seremonial belaka. Bagi Hendy, yang pernah memegang komando di satuan elite Koopssus TNI, profesionalisme adalah harga mati. Namun, ia punya catatan khusus soal cara mencapainya.

READ  Di Tengah Pekerjaan TMMD, Satgas Kodim Langkat Tetap Sholat Jumat Bersama Warga

​”Kerja tulus dan ikhlas. Jangan terjebak rutinitas,” ujar Hendy. Ia menekankan bahwa dalam dunia militer, kesiapan prajurit adalah nyawa. Tanpa latihan yang disiplin, profesionalisme hanyalah istilah kosong di atas kertas.

​Tema HUT tahun ini, “Sinergi dengan Rakyat, Memajukan Negeri”, memang terdengar klise. Namun, bagi Hendy, ini adalah napas Kodam I/BB. Ia meminta para komandan satuan di bawahnya untuk mengubah gaya kepemimpinan: dari yang kaku menjadi lebih kolaboratif dan hangat.

READ  Distribusi Air Bersih di Pasar Rawa: Menanti Tuntasnya Sasaran Terakhir

“Ciptakan suasana kerja yang membuat prajurit semangat. Komandan harus tahu bagaimana membakar motivasi, bukan sekadar memberi perintah,” ucapnya.

​Satu pemandangan menarik tersaji saat puncak acara. Tak ada orasi panjang lebar saat pemotongan tumpeng. Hendy justru memanggil Pelda Sahat Manik, prajurit dari Slogdam I/BB yang akan segera menanggalkan seragam dinasnya.

​Saat piring tumpeng berpindah tangan, terselip pesan hormat dari sang jenderal kepada sang pelda. Momen itu terasa personal, menjadi pengingat bahwa di balik mesin perang yang besar, ada dedikasi personal yang harus dihargai.

READ  Dari Rumah ke Sel Tahanan: Istri dan Anak Ko Erwin Terseret Jejak Uang Narkoba

​Hendy menutup hari itu dengan satu pengingat klasik yang tak lekang oleh waktu: keamanan dan kesehatan tetaplah prioritas. Sebab, dalam menjaga negeri, prajurit tak bisa melakukannya jika mereka sendiri tidak terjaga.