Dua Tabib Loreng di Pinggir Mangrove Langkat

LANGKAT, WasantaraPos.com – ​Langkah kaki Serka TJP Marbun dan Serka Adi Ervanus memecah kesunyian jalan setapak Desa Pasar Rawa, Langkat. Pagi itu, Sabtu, 16 Mei 2026.

Saat itu, matahari belum lagi tinggi di atas hamparan hutan mangrove, namun peluh sudah membasahi seragam loreng mereka.

Di pundak keduanya, tak ada senapan yang melintang. Sebagai gantinya, sebuah tas ransel berisi penuh obat-obatan bergoyang seiring langkah kaki mereka.

​Kedua bintara ini adalah bagian dari Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128 Kodim 0203/Langkat. Di desa pesisir ini, mereka mendapatkan julukan baru dari runtutan ketukan pintu yang mereka lakukan setiap hari: “Tabib Loreng”.

READ  Warga Gebang Merapat! Besok Ada Pengobatan Gratis, Pasar Murah, hingga Hiburan Rakyat di Lapangan Desa Pasar Rawa

​”Prinsipnya, pelayanan harus menjangkau masyarakat,” ujar salah satu dari mereka. Kalimat itu bukan sekadar jargon. Di Pasar Rawa, akses kesehatan adalah kemewahan yang harus ditebus dengan jarak. Maka, Marbun dan Ervanus memilih menjemput bola.

​Mereka adalah orang yang sama yang meredakan sakit kepala Muriafi, dan mendamaikan cemas orang tua Indah saat demam tinggi menyerang bocah itu tempo hari.

READ  Senyum Kakek Hairil di Ujung Jembatan Pasar Rawa

Tangan-tangan yang terlatih untuk bertempur ini, kini dengan cekatan memegang sfigmomanometer, alat pengukur tensi darah dan memilah bungkusan obat dengan kelembutan seorang perawat.

​Sabtu pagi itu, mereka tiba di kediaman Ramli. Lelaki 68 tahun itu mengeluh kepalanya berdenyut-denyut. Diagnosis Marbun cepat dan tepat: hipertensi.

Sebotol kecil Amlodipine Besilate 5 mg berpindah tangan, lengkap dengan petunjuk dosis yang diucapkan berulang-ulang agar sang kakek tak lupa.

​Tak jauh dari sana, Ruqiah, 55 tahun, juga tengah menunggu. Alergi kulit membuatnya tak nyenyak tidur beberapa malam terakhir.

READ  Membasuh Dahaga di Bilik Kamling dan Keran Mushola

Di teras rumah kayu, Ervanus memeriksa ruam tersebut, memberikan sebungkus Cetirizine dan salep Miconazole.

​Bagi warga Pasar Rawa, kehadiran kedua sersan kepala ini bukan lagi soal kehadiran negara dalam bentuk seragam militer, melainkan hadirnya jaminan bahwa mereka tidak sendirian saat raga melemah.

Di pinggiran Langkat, obat-obatan itu menjelma menjadi lem perekat antara korps loreng dan rakyat.