Estafet di Batalyon Pemukul Kodam Bukit Barisan

MEDAN, WasantaraPos.com – Gedung AH Nasution di lantai dua Markas Komando Daerah Militer I/Bukit Barisan, Medan, Selasa pagi, 2 Juni 2026, tampak lebih sibuk dari biasanya.

Di ruangan itu, Pangdam I/Bukit Barisan, Mayor Jenderal Hendy Antariksa, memimpin sebuah ritus militer yang krusial: serah terima jabatan Komandan Batalyon Infanteri (Danyonif) 100/Prajurit Setia.

​Bagi satuan berjuluk “Prajurit Setia”, batalyon ini bukan sekadar unit infanteri biasa. Ia adalah satuan pemukul utama—strike force—di bawah kendali langsung Pangdam. Di tangan komandan yang duduk di kursi ini, nasib mobilitas dan kesiapan tempur kodam dipertaruhkan.

READ  Detail Kecil, Hasil Besar: Sentuhan Akhir Mushola TMMD 128 Gebang

​Mayjen Hendy menatap tajam ke arah para perwira yang berdiri tegap di depannya.

Dalam amanatnya, ia tak ingin ritual ini sekadar dianggap rutinitas administratif belaka. Bagi dia, pergantian tongkat komando adalah bagian dari denyut nadi organisasi yang harus memastikan profesionalisme tak melorot.

​”Ini bukan soal seremonial pergantian nama di papan jabatan,” ujar Hendy dengan nada tegas. “Ini tentang regenerasi kepemimpinan agar satuan tetap tajam menghadapi tantangan yang makin kompleks.”

READ  Distribusi Air Bersih di Pasar Rawa: Menanti Tuntasnya Sasaran Terakhir

​Hendy tak lupa menoleh ke arah Letkol Inf Agus Muchtadi. Selama memegang kendali Yonif 100/PS, Agus dianggap berhasil menjaga soliditas satuan yang kerap menjadi ujung tombak di lapangan.

Kini, Agus harus menanggalkan jabatan batalyon untuk berpindah pos ke teritorial sebagai Komandan Kodim 0207/Simalungun.

​Jabatan itu kini berpindah ke Letkol Inf Amirul Husin. Tugas Amirul tak ringan. Ia dituntut tidak hanya mempertahankan standar disiplin, tetapi juga membawa sentuhan manajerial baru.

READ  Gula Pasir Mendadak Raib dari Ritel Modern Medan

Di pundak Amirul ini, Pangdam menitipkan harapan besar agar Yonif 100/PS tetap menjadi unit yang siap diterjunkan kapan saja, dalam kondisi apa pun.

​Usai upacara, suasana berubah lebih cair. Ada jabatan tangan, tepuk bahu, hingga sesi foto bersama.

Namun, di balik seremonial yang hangat itu, pesan Pangdam tetap menggantung: Yonif 100/PS harus terus berlari, menjaga marwahnya sebagai kekuatan pemukul yang paling diandalkan di tanah Sumatera Utara.