Jalan Baru di Pasar Rawa, dan Pelan-Pelan Pulihnya Rasa Terhubung

LANGKAT, WasantaraPos.com — Hujan di Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat, dulu bukan sekadar tanda musim. Ia adalah penanda lain: keterputusan.

Ketika langit mulai gelap dan rintik turun lebih rapat, jalan tanah sepanjang desa itu perlahan berubah menjadi lumpur tebal. Sepeda motor sulit melintas, mobil pengangkut hasil panen sering tertahan, dan aktivitas warga ikut melambat.

Sumarni (46) sudah terlalu lama akrab dengan situasi itu. Setiap musim hujan, ia menunda mengantar hasil kebun ke pengepul. Kadang ia hanya bisa menunggu jalan mengering.

“Kalau hujan, kami tidak bisa apa-apa. Hasil kebun jadi lama keluar,” katanya di sela aktivitasnya, beberapa waktu lalu.

Di desa itu, jalan bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah urat nadi yang menentukan cepat atau lambatnya uang berputar, hasil panen terjual, dan kebutuhan rumah tangga terpenuhi.

Jalan yang lama ditunggu

Kini, kondisi itu berubah perlahan. Jalan sepanjang 1.500 meter dengan lebar 4 meter di Desa Pasar Rawa hampir rampung dibangun melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128 Kodim 0203/Langkat.

READ  Saat Prajurit Loreng Itu Belajar Menganyam Keranjang Arang

Jalan yang sebelumnya sulit dilalui itu kini sudah bisa digunakan warga. Permukaannya diperkeras, jalurnya diperlebar, dan akses yang dulu terputus saat hujan mulai terbuka kembali.

Bagi sebagian warga, perubahan ini terasa sederhana di atas kertas, tetapi besar dalam kehidupan sehari-hari: waktu tempuh lebih singkat, kendaraan lebih mudah masuk, dan biaya angkut hasil pertanian mulai berkurang.

Di sisi lain, jalan itu juga membuka kembali keterhubungan antarwilayah desa yang selama ini lebih banyak bergantung pada kondisi cuaca.

Kerja di tengah medan dan waktu

Pembangunan jalan ini tidak berlangsung dalam kondisi mudah. Satgas TMMD bekerja di tengah medan yang tidak selalu stabil dan cuaca yang kerap berubah cepat.

Program ini melibatkan unsur TNI, Polri, pemerintah daerah, serta masyarakat setempat. Di lapangan, kerja fisik dilakukan berdampingan dengan kerja sosial: gotong royong yang menjadi salah satu pola utama TMMD.

Komandan Satgas TMMD ke-128 Kodim 0203/Langkat, Letkol Inf Medwin Sangkakala, mengatakan program ini ditujukan untuk mempercepat pembukaan akses di wilayah pedesaan.

READ  Di Tengah Penugasan TMMD, Prajurit dan Warga Gebang Bersujud Bersama

“TMMD ini membantu pemerintah daerah membuka keterisolasian wilayah dan memperlancar mobilitas masyarakat, termasuk distribusi hasil pertanian,” ujarnya, Senin (4/5/2026).

Selain jalan, program ini juga mencakup pembangunan jembatan sebagai penghubung antarwilayah desa.

Gotong royong yang kembali terasa

Di sela pekerjaan, warga ikut terlibat. Ada yang membantu pengangkutan material, ada yang menyiapkan konsumsi, ada pula yang sekadar memastikan pekerjaan berjalan lancar di sekitar rumah mereka.

Keterlibatan itu bukan hal baru di Pasar Rawa. Namun dalam beberapa tahun terakhir, sebagian warga mengaku aktivitas gotong royong seperti ini semakin jarang terasa dalam proyek-proyek pembangunan.

TMMD, bagi mereka, menjadi ruang pertemuan kembali antara warga dan aparat dalam kerja bersama.

Dampak yang mulai terlihat

Meski belum seluruhnya selesai, dampak jalan baru itu mulai terasa. Pedagang lebih mudah menjangkau desa, kendaraan pengangkut hasil pertanian lebih lancar melintas, dan warga tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kondisi cuaca untuk bepergian.

READ  TMMD Langkat Tancap Gas! Gorong-Gorong Hampir Jadi, Siap Akhiri Langganan Banjir di Pasar Rawa

Bagi Sumarni, perubahan itu juga membawa ketenangan baru. Ia tidak lagi harus menghitung ulang rencana setiap kali hujan turun.

“Sekarang kalau hujan pun sudah lebih tenang. Jalan sudah bisa dilewati,” katanya.

Lebih dari sekadar jalan

Di Pasar Rawa, jalan baru itu kini menjadi penanda perubahan kecil yang berdampak besar. Ia bukan hanya menghubungkan titik-titik di peta, tetapi juga memperpendek jarak antara rumah warga dengan pasar, sekolah, dan pusat layanan lainnya.

Namun di balik itu, masih ada kesadaran lain yang tersisa: bahwa akses seperti ini datang setelah lama ditunggu.

Program TMMD ke-128 di desa ini berlangsung sekitar satu bulan, melibatkan TNI, Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat melalui kerja lintas sektor.

Di akhir hari, ketika alat berat berhenti bekerja dan jalan mulai mengering, yang tersisa bukan hanya material yang tersusun rapi, tetapi juga perubahan kecil dalam cara warga memandang masa depan mereka: lebih terbuka, meski perlahan.