Medan di Bawah Kepungan Budaya: Saat Walikota Rico Waas ‘Menghidupkan Kembali’ Sultan Deli di Lapangan Merdeka

Budaya, Headline142 Dilihat

MEDAN, WasantaraPos.com – Malam itu, Selasa, 30 Juni 2026, Lapangan Merdeka Medan tidak sekadar menjadi titik nol kilometer kota. Di bawah gemerlap lampu yang memantul di balik busana kebesaran adat Melayu, jantung Kota Medan seolah berdetak lebih kencang.

Walikota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, berdiri di panggung utama, membalut dirinya dengan identitas yang bukan sekadar kain, melainkan simbol perlawanan terhadap arus zaman yang kian menggerus akar sejarah.

​Itulah puncak dari “Gelar Melayu Serumpun” (GEMES) ke-9. Selama empat hari, kota yang dikenal sebagai periuk peleburan berbagai etnis ini seakan dipaksa berhenti sejenak untuk menoleh ke belakang: ke masa kejayaan Kesultanan Melayu Deli.

READ  Bobibos Diuji Negara, Lolos atau Gagal Jadi BBM Masa Depan?

​Di barisan depan tamu undangan, deretan petinggi militer dan kepolisian—termasuk Dandim 0201/Medan, Letkol Arm Delli Yudha Adi Nurcahyo—tampak khidmat.

Mereka tidak hanya hadir untuk seremonial penutupan, melainkan menjadi saksi bagaimana sebuah kota multikultural berupaya mengunci identitasnya di tengah hiruk-pikuk Rapat Kerja Nasional (RAKERNAS) XVIII APEKSI yang dihadiri para walikota dari seluruh penjuru Nusantara.

​”Melestarikan budaya Melayu berarti merawat akar sejarah kota ini,” ujar Rico dalam pidato yang sarat akan retorika kebudayaan. Ia tidak sekadar menutup acara; ia sedang menegaskan tesisnya: bahwa kemajuan sebuah kota yang modern tidak boleh memunggungi leluhurnya.

READ  Danantara Tancap Gas, Sampah di Medan hingga Bekasi Akan “Disulap” Jadi Listrik

​Bagi Rico, busana Melayu yang ia kenakan bukan sekadar kostum. Itu adalah narasi tentang kesantunan yang mulai pudar dan kehormatan yang kerap tergadaikan oleh ambisi pembangunan beton.

Di tengah kehadiran Sultan Deli ke-XIV, Tuanku Sultan Mahmud Arya Lamantjitji Perkasa Alam, suasana malam itu terasa magis. Ada napas kesultanan yang diembuskan kembali ke tengah lapangan yang dikelilingi gedung-gedung kolonial tersebut.

READ  PUTR Langkat Uji Jembatan TMMD di Gebang

​Namun, di balik gemuruh tepuk tangan para kepala daerah se-Indonesia, terselip pesan serius: mampukah identitas Melayu bertahan di kota yang kini sedang bertransformasi menjadi metropolitan raksasa?

​Malam itu, di Lapangan Merdeka, setidaknya untuk sesaat, Medan berhasil memenangkan pertarungan melawan lupa. Saat Walikota mengetuk palu penutupan, budaya bukan lagi menjadi artefak masa lalu yang berdebu di museum, melainkan napas yang ingin terus dihidupkan di tengah gerak laju kota yang tak pernah tidur.