Medan Tumbuh, Kemiskinan Menumpuk

Headline, Medan74 Dilihat

MEDAN, WasantaraPos.com – Di siang hari, denyut Medan nyaris tak pernah melambat. Jalan-jalan penuh. Ruko terus tumbuh. Kafe dan pusat belanja bermunculan. Uang berputar cepat di kota terbesar di luar Jawa itu.

Namun di balik geliat ekonomi tersebut, tersimpan angka yang memantul seperti alarm: 171,6 ribu warga Medan masih hidup dalam kemiskinan pada 2025.

Jumlah itu menjadi yang tertinggi di Sumatera Utara.

Bagi banyak orang, angka tersebut mudah diterjemahkan menjadi satu kesimpulan sederhana: Medan gagal. Tapi persoalannya tidak sesederhana itu.

Dosen Ekonomi Pembangunan Universitas Sumatera Utara, Arif Rahman, menyebut narasi “Medan kota termiskin” sebagai cara baca yang menyesatkan.

“Yang besar itu jumlah penduduk miskinnya, bukan tingkat kemiskinannya,” katanya.

Dengan penduduk mencapai sekitar 2,49 juta jiwa, Medan menjadi pusat tarikan terbesar di Sumatera Utara. Orang datang dari berbagai kabupaten membawa harapan lama: pekerjaan dan kehidupan yang lebih layak.

Sebagian berhasil bertahan. Sebagian lain tersangkut di pinggir kota, masuk ke sektor informal, bekerja tanpa kepastian.

Di titik itulah Medan menghadapi paradoksnya sendiri: kota ini tumbuh cepat, tetapi tidak cukup cepat untuk membagi kesejahteraan.

Secara persentase, tingkat kemiskinan Medan sebenarnya hanya 7,25 persen—lebih rendah dibanding sejumlah daerah lain seperti Kepulauan Nias dan Sibolga. Tapi populasi yang telanjur gemuk membuat angka miskin absolut tetap menggunung.

READ  Tinggalkan Keluarga Demi Negeri, Satgas TMMD Bangun Harapan di Pesisir Langkat

Ekonomi kota bergerak. Ketimpangan ikut bergerak bersamanya.

Data lain memperlihatkan tekanan yang lebih dalam. Tingkat Pengangguran Terbuka Medan menjadi yang tertinggi di Sumatera Utara: 7,99 persen. Rasio gini pengeluaran mencapai 0,362, angka yang menunjukkan jurang pengeluaran warga masih lebar.

“Pertumbuhan ekonomi tidak otomatis menghadirkan pemerataan,” ujar Arif.

Masalahnya bukan sekadar ada atau tidak ada pekerjaan. Persoalannya: pekerjaan seperti apa yang tersedia.

READ  Babinsa 0201-04/MK Dampingi Pembagian Makan Sehat Bergizi untuk 708 Siswa SMA Negeri 6 Medan

Sekitar 26 persen pekerja di Medan masih berada dalam kategori berusaha sendiri dan pekerja tidak dibayar. Banyak yang bekerja, tetapi tetap rapuh. Penghasilan tidak stabil. Perlindungan minim. Mobilitas sosial berjalan lambat.

Sementara itu, arus urbanisasi terus datang tanpa jeda.

Medan, kata Arif, kini seperti mesin ekonomi yang terus menarik manusia masuk, tetapi tidak selalu mampu menyediakan ruang hidup yang setara bagi semua.

READ  Skenario Mengeringkan Genangan Menahun

Akibatnya, kota ini bukan hanya menarik kelompok pencari peluang baru, melainkan juga terus memproduksi kelompok rentan baru.

Di tengah gedung-gedung yang terus meninggi, kemiskinan di Medan ternyata tidak hilang. Ia hanya ikut tumbuh, diam-diam, di bawah bayang-bayang ekspansi kota.