LANGKAT, WasantaraPos.com – Di Desa Pasar Rawa, bau laut yang asin kerap bercampur dengan aroma minyak kayu putih.
Di sana, di antara rumah-rumah panggung yang membelakangi hutan mangrove, Serka TJP Marbun dan Serka Adi Ervanus melakoni peran yang berbeda.
Mereka adalah tabib loreng yang memilih menyepi dari riuhnya proyek semen dan aspal TMMD 128, demi menempuh jalan sunyi menuju dapur-dapur warga.
Jumat siang itu, ketukan pintu-pintu rumah kayu terdengar ritmis. Di dalam sebuah rumah, Muriafi, 57 tahun, tengah memegangi kepalanya yang berat.
Ia tak perlu mengantre di Puskesmas yang jauh. Sang sersan datang, memeriksa denyut nadinya, dan memberikan obat layaknya seorang kawan lama.
“Pelayanan harus menjangkau masyarakat,” ujar petugas itu pendek.
Di tangan mereka, stetoskop terasa sama pentingnya dengan senapan; keduanya dipakai untuk melindungi nyawa.











