Detik-Detik Terakhir Sepatu Lars di Pasar Rawa

​Dua bintara kesehatan terus mengetuk pintu kayu warga di pesisir Langkat. Menjelang penutupan TMMD ke-128, mereka berpacu dengan waktu dan tensi darah yang meninggi.

LANGKAT, WasantaraPos.com – Deru mesin ekskavator di pinggiran Desa Pasar Rawa pelan-pelan mulai meredup. Beton-beton jalan sudah mengeras, dan air di saluran irigasi baru itu kini mengalir tanpa sumbatan.

Namun, bagi Sersan Kepala TJP Marbun dan Sersan Kepala Adi Ervanus, ketukan palu terakhir proyek fisik bukan berarti ketukan pintu rumah warga juga harus berhenti.

​Menjelang penutupan resmi operasi TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128 di pesisir Kabupaten Langkat, dua bintara yang karib dijuluki warga sebagai “Tabib Loreng” ini justru mempercepat langkah kaki mereka.

Ransel hijau di pundak mereka, yang selama sebulan terakhir sesak oleh logistik obat-obatan, kini mulai terasa ringan, isinya mulai menipis, tersedot oleh tingginya kurva permintaan layanan medis warga pinggiran.

READ  Kejaksaan Geledah Distributor Semen di Sumatera Selatan

​”Kami ingin memastikan tidak ada yang tercecer di detik-detik terakhir,” ujar Marbun, sambil menyeka peluh yang meleleh di pelipisnya, Selasa, 19 Mei lalu.

​Hari itu, fokus sang tabib bergeser. Jika hari-hari sebelumnya lapangan dipenuhi keluhan demam akibat cuaca pesisir yang menggigit, kali ini “musuh” yang dihadapi adalah penyakit-penyakit degeneratif senyap: hipertensi.

​Di sebuah gubuk kayu, Miswati, perempuan 71 tahun, duduk bersandar di kursi rotan yang anyamannya mulai lepas. Tekanan darahnya meninggi, membuat kepalanya terasa berputar.

READ  Tentara Datang, Solusi Aman Pun Berdiri: Pos Kamling Jadi Harapan Baru Warga Pasar Rawa

Di tempat lain, Ruslan, seorang pria berusia 75 tahun yang menolak menyerah pada usia, juga ambruk dengan diagnosis serupa.

Kepada keduanya, sejumput tablet Amlodipine disodorkan, lengkap dengan wejangan ketat khas militer namun disampaikan dengan nada karib seorang anak.

​Bagi masyarakat Pasar Rawa, kehadiran dua tentara ini adalah anomali yang dirindukan. Di wilayah yang jaraknya berkilo-kilometer dari puskesmas kecamatan ini, layanan medis bergerak jemput bola adalah kemewahan.

READ  Membangun Jembatan Asa: Gebrakan Dandim 0201/Medan Taklukan Arus Sungai Demi Rakyat

​”Jalan beton tentu berguna untuk membawa hasil panen kami,” kata seorang tetua desa, matanya menatap nanar ke arah ransel Marbun yang mulai mengempis.

“Tapi ketukan pintu dari para tentara ini yang membuat kami merasa tidak sendirian di pinggiran.”

​Penutupan TMMD tinggal menghitung hari. Spanduk-spanduk seremonial mulai dipasang di lapangan desa.

Namun di bawah kolong-kolong rumah panggung Pasar Rawa, warisan yang ditinggalkan korps loreng ini tampaknya melampaui sekadar semen dan aspal.

Ada rasa kehilangan yang mulai menjalar, bahkan sebelum upacara parade penutupan resmi dimulai.