MENEMUKAN ‘ADA’ DI ERA DIGITAL: REVITALISASI METAFISIKA ARISTOTELES DALAM STRUKTUR REALITAS KONTEMPORER

“Merekonstruksi Pemikiran Filsafat Pertama Aristoteles (Buku 1–9) sebagai Kompas Ontologis di Era Kecerdasan Buatan & Big Data”

Editor by :

1. Jaenal Abidin, S.Sos., MA., Ph.D (Dosen & Akademisi @ Program Studi S1, Ilmu Administrasi Publik, FISIP USU, jaenalabidin@usu.ac.id).

2. Kiyai Khalifah Dr.Muhammad Sontang Sihotang,S.Si., M.Si (Dosen dan Kepala Laboratorium Fisika Nuklir (Inti) & Program Studi Fisika S-1 FMIPA USU, Bidang Keahlian & Penelitiannya berfokus pada filsafat fisika, fisika teori, fisika nuklir, econophysics, hyper metafisika, metaphysics sufism, Peneliti @ Pusat Unggulan Inovasi  / Iptek (PUI) Karbon & Kemenyan USU-Medan. Dosen Filsafat – Universitas Pembangunan Panca Budi (UNPAB) – Medan, muhammad.sontang@usu.ac.id)

 

Abstrak : Artikel ilmiah populer ini mengeksplorasi relevansi pemikiran Aristoteles dalam karyanya Metaphysics (Buku 1–9) terhadap realitas modern yang didominasi oleh teknologi digital dan kecerdasan buatan. Melalui rekonstruksi konseptual dari empat penyebab, substansi (ousia), serta dialektika antara potensi (dynamis) dan aktualitas (energeia), tulisan ini merumuskan sebuah kerangka kerja aplikatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa kerangka metafisika klasik bukan sekadar artefak sejarah, melainkan instrumen kritis untuk memahami pergeseran ontologis masyarakat kontemporer.

  1. Falsafah Dasar: Hasrat Epistemik dan Ilmu tentang “Ada”

Aristoteles membuka risalah agungnya dengan sebuah proposisi radikal yang mendefinisikan kodrat kemanusiaan: “Semua manusia secara alamiah mendambakan pengetahuan” (Buku I, 980 a). Hasrat ini bukan sekadar dorongan bertahan hidup, melainkan pencarian makna yang bergerak dari persepsi indrawi yang acak menuju kebijaksanaan tertinggi (Sophia). Kebijaksanaan ini, menurut Aristoteles, adalah ilmu yang mempelajari prinsip-prinsip dan penyebab-penyebab pertama dari realitas. Dalam Buku IV (Gamma), ia menetapkan subjek formal dari ranah filsafat pertama ini sebagai studi tentang being qua being “ada sejauh itu ada”. Di era modern di mana realitas fisik berkelindan erat dengan realitas virtual (seperti metaverse dan entitas digital), pertanyaan tentang “apa yang benar-benar ada” kembali mengemuka. Falsafah Aristoteles mengingatkan kita bahwa di balik segala fenomena yang berubah dan mengalir, terdapat struktur fundamental penyusun realitas yang wajib diurai secara rasional agar manusia tidak terjebak dalam ilusi eksistensial.

  1. Prinsip Berpikir: Pondasi Logika Logis dan Hukum Non-Kontradiksi
READ  DPRD Medan Perintahkan Segel Bangunan Tanpa PBG

Sebelum melangkah pada penataan realitas, Aristoteles dalam Buku IV menetapkan jangkar logika yang tidak boleh digoyahkan oleh filsuf mana pun: Hukum Non-Kontradiksi (Principle of Non-Contradiction). Ia menyatakan bahwa suatu atribut tidak dapat melekat sekaligus tidak melekat pada subjek yang sama pada waktu yang sama dan dalam aspek yang sama. “Secara matematis dan logis, jika A adalah substansi, maka tidak mungkin secara bersamaan dalam kondisi yang identik A = ¬A.” Prinsip ini adalah batas tegas antara diskursus yang bermakna dan kekacauan berpikir. Di dunia modern yang penuh dengan disinformasi dan fenomena post-truth, di mana kebenaran sering kali dikaburkan demi kepentingan

Makalah Ilmiah Populer: Metafisika Aristoteles

READ  Peduli Kemajuan Masyarakat India, LK FORMASII Temui Anggota DPRD Medan Rommy Van Boy

Inaratif, prinsip non-kontradiksi Aristotelian bertindak sebagai benteng epistemologis utama. Sesuatu tidak bisa berupa fakta sekaligus kebohongan dalam ruang dan konteks yang sama.

  1. Teori Ontologis: Kerangka Hylomorphism, Empat Penyebab, dan Dualitas Eksistensi

Inti dari Buku VII (Zeta) hingga Buku IX (Theta) adalah perumusan struktur terdalam dari benda-benda nyata melalui beberapa teori besar:

Teori Empat Penyebab (The Four Causes)

Aristoteles berpendapat bahwa kita tidak akan benar-benar memahami sesuatu sampai kita berhasil mengidentifikasi empat penyebab utamanya (Buku I & V):

Penyebab Material (Material Cause) : Bahan baku dari mana sesuatu itu dibuat.

Penyebab Formal (Formal Cause)     : Bentuk, pola, atau definisi esensial yang membuat sesuatu menjadi dirinya sendiri.

Penyebab Efisien (Efficient Cause)   : Agen atau daya pendorong yang memulai perubahan/pembuatan.

Penyebab Final (Final Cause)             : Tujuan akhir, fungsi, atau pemenuhan eksistensi sesuatu tersebut.

Hylomorphism dan Substansi (Ousia)

Melalui kritik tajam terhadap teori “Ide” Plato dalam Buku I, Aristoteles menegaskan bahwa esensi tidak berada di dunia transenden yang terpisah. Melalui hylomorphism, realitas tersusun atas perpaduan tak terpisahkan antara materi (hyle) dan bentuk (morphe). Kesatuan inilah yang membentuk substansi (ousia) ; entitas konkret yang eksis secara mandiri.

Potensi (Dynamis) dan Aktualitas (Energeia)

Dalam Buku IX (Theta), Aristoteles memecahkan misteri perubahan dengan membagi cara “ada” menjadi dua fase: Potensi (dynamis) yang mewakili kapasitas laten untuk berkembang, dan Aktualitas (energeia / entelecheia) yang merupakan realisasi penuh dari potensi tersebut. Ia menegaskan bahwa aktualitas secara ontologis dan nilai jauh lebih unggul daripada potensi.

  1. Aplikasi Berdampak: Kontekstualisasi Metafisika dalam Manajemen dan Teknologi
READ  Kader PAN Medan Edwin Sugesti Nasution : Isu sebut Zulhas Penyebab Banjir Sumatera - Aceh Pembodohan

Modern

Konsep-konsep abstrak dari Buku 1–9 ini memiliki daya terap yang luar biasa kuat jika ditransformasikan ke dalam praktik modern. Tabel di bawah ini merancang bagaimana teori metafisika Aristoteles diturunkan menjadi instrumen aplikatif yang berdampak.

 

 

Development Mengubah paradigma pelatihan kerja dari sekadar menilai kompetensi saat ini (aktualitas) menjadi pemetaan jalur karir berdasarkan kapasitas adaptif individu (potensi). Meningkatkan retensi karyawan hingga 40 %.

  1. Kesimpulan

Metafisika Aristoteles, sebagaimana dijabarkan dalam sembilan buku pertama yang diterjemahkan dengan apik oleh Hugh Tredennick, bukanlah menara gading spekulasi yang usang. Dengan memahami hakikat substansi, menjaga ketajaman prinsip non-kontradiksi, mengevaluasi realitas lewat empat penyebab, serta mendorong potensi menuju aktualitas, kita mendapatkan kompas intelektual yang kokoh. Di tengah disrupsi teknologi abad ke-21, kembali ke fondasi pemikiran “filsafat pertama” ini justru menjadi langkah paling progresif untuk menjaga esensi kemanusiaan kita.

Disadur dari “Kajian Filosofis Populer atas Buku 1–9 Terjemahan Hugh Tredennick, Rujukan Utama: Aristotle, Metaphysics Books I–IX, Loeb Classical Library”