Kisah “Tabib Loreng” di Pesisir Langkat: Ketika Senapan Diganti Ransel Obat

LANGKAT, WasantaraPos.com – Langkah kaki Sersan Kepala TJP Marbun dan Sersan Kepala Adi Ervanus memecah kesunyian jalan setapak Desa Pasar Rawa, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

Pagi, Senin, 18 Mei 2026, matahari belum lagi tinggi di atas hamparan hutan mangrove, namun peluh sudah membasahi seragam loreng yang mereka kenakan.

​Ada yang tak biasa dari penampilan kedua bintara ini. Di pundak mereka, tak ada senapan yang melintang. Sebagai gantinya, sebuah tas ransel berisi penuh obat-obatan bergoyang seiring langkah kaki menyusuri pemukiman warga.

​Marbun dan Ervanus adalah bagian dari Satuan Tugas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128 Kodim 0203/Langkat. Di desa pesisir yang minim akses ini, mereka mendapatkan julukan baru dari warga setempat: “Tabib Loreng”.

Julukan itu lahir dari runtutan ketukan pintu rumah yang mereka lakukan saban hari demi mengantarkan layanan kesehatan gratis.

READ  Pangdam I/BB dan Cetak Biru Baru: Menakar Relevansi AI dalam Pertahanan Teritorial

​”Prinsipnya, pelayanan harus menjangkau masyarakat,” ujar Marbun kepada wartawan, Senin, 18 Mei 2026.

​Kalimat itu bukan sekadar jargon di atas kertas. Di Desa Pasar Rawa, layanan kesehatan adalah kemewahan yang harus ditebus dengan jarak dan biaya transportasi yang tak murah.

Kondisi geografis inilah yang memaksa kedua sersan ini memilih strategi “jemput bola”, Tabib loreng mendatangi satu per satu warga yang terbaring sakit.

​Tangan-tangan yang semula dilatih untuk memegang senjata dan bertempur, kini tampak cekatan memasang sfigmomanometer (alat pengukur tensi darah) dan memilah bungkusan obat dengan kelembutan layaknya seorang perawat profesional.

​Dua hari lalu, akhir pekan kemarin, mereka berhasil meredakan kecemasan warga.

Mulai dari meredakan sakit kepala menahun yang diderita Muriafi, hingga menurunkan demam tinggi yang menyerang bocah bernama Indah.

Mereka juga mendiagnosis hipertensi pada Ramli (68 tahun) serta memberikan penanganan alergi kulit pada Ruqiah (55 tahun).

READ  Sinergi Tiga Pilar di Pasar Rawa: Menutup TMMD, Mengukir Jejak Bakti di Langkat

​Menjaga Stamina Pasukan dan Menepis Demam Warga

​Aksi kemanusiaan “Tabib Loreng” terus berlanjut hingga awal pekan ini.

Berdasarkan data pelayanan kesehatan lapangan pada Senin, 18 Mei 2026, posko kesehatan bergerak ini tidak hanya menyisir rumah warga, tetapi juga memastikan kesiapan fisik rekan sejawat mereka di lapangan.

​Heriyanto (51 tahun), salah seorang personel Satgas TMMD yang sehari-hari kelelahan mengejar target pembangunan fisik, mengeluhkan batuk yang tak kunjung reda.

Ervanus dengan sigap memberikan terapi berupa sirup Ambroxol dan Cetirizine agar sang prajurit bisa kembali bugar.

​Lepas merawat rekan sejawat, langkah kaki kedua bintara kembali mengarah ke rumah-rumah panggung khas pesisir.

Di sebuah Cakruk kayu, mereka mendapati Onci (39 tahun) yang terkulai lemas akibat demam.

READ  Diganjar Kerja Keras Tanpa Libur, 5 Unit Rumah RTLH TMMD 128 Pasar Rawa Rampung 100 Persen

Setelah memeriksa suhu tubuhnya, tim medis TMMD memberikan kombinasi Paracetamol dan antibiotik Amoxicillin, lengkap dengan pesan tegas agar obat tersebut dihabiskan demi mencegah resistensi bakteri.

​Tak jauh dari situ, Ana (45 tahun) juga mengeluhkan pandangan yang berkunang-kunang. Hasil pemeriksaan menunjukkan tensi darahnya merosot di bawah normal—gejala hipotensi.

Sebagai langkah penanganan, Marbun menyerahkan sejumlah vitamin Etabion untuk mendongkrak kadar hemoglobinnya.

​Bagi warga Pasar Rawa, kehadiran Marbun dan Ervanus bukan lagi sekadar simbol kehadiran negara lewat seragam militer.

Lebih dari itu, bungkusan obat dan ketukan pintu di pagi buta adalah jaminan sosial bahwa di saat raga mereka melemah, mereka tidak sedang berjuang sendirian.

Di pinggiran Langkat, obat-obatan di dalam ransel lusuh itu kini menjelma menjadi lem perekat yang paling kuat antara korps loreng dan rakyat.