Pantukhir di Pematangsiantar: 494 Calon Bintara Menunggu Putusan Terakhir

Headline, Kodam I/BB, News194 Dilihat

Pematangsiantar, WasantaraPos.com — Suasana di Lapangan Tennis Indoor Resimen Induk (Rindam) I/Bukit Barisan, Kamis (19/2/2026), terasa lebih tegang dari biasanya. Sebanyak 494 calon siswa Calon Bintara (Caba) PK TNI AD Gelombang I Tahun Anggaran 2026 berdiri dalam barisan rapi. Wajah mereka datar. Tapi taruhannya tak sederhana, “masa depan”.

 

Sidang Pantukhir tingkat Sub Panpus Kodam I/Bukit Barisan digelar. Pangdam I/Bukit Barisan, Mayjen Hendy Antariksa, memimpin langsung proses yang menjadi pintu akhir seleksi. Seremoni berjalan sesuai protokol. Laporan disampaikan. Data dipaparkan. Nilai dirangkum.

READ  Prabowo ‘Pangkas’ Habis Bunga Mekaar: Melawan Ketidakadilan 24 Persen

 

Para peserta sebelumnya telah melewati serangkaian seleksi di tingkat panitia daerah (Panda) mulai dari administrasi, kesehatan, psikologi, jasmani, hingga penelitian personel. Tahapan yang tak hanya menguji fisik, tetapi juga konsistensi mental.

 

Dalam amanat Asisten Personel Kasad, I Wayan Suarjana, yang dibacakan Pangdam, ditekankan pentingnya objektivitas, transparansi, dan akuntabilitas. Rekrutmen prajurit, kata dia, tak boleh menyisakan ruang kompromi.

 

READ  HUT ke-95 Al Jam’iyatul Washliyah di Sumut Diisi Rangkaian Kegiatan Pendidikan, Sosial dan Dakwah

Pesan itu relevan. Setiap tahun, proses penerimaan prajurit menjadi perhatian publik. Bukan semata soal jumlah yang diterima, tetapi bagaimana integritas seleksi dijaga. Institusi militer bertaruh pada kredibilitasnya.

 

Di ruang sidang, angka-angka menjadi dasar pertimbangan. Di luar ruangan, para calon menunggu tanpa kepastian.

 

Mereka sadar, keputusan hari itu akan menentukan langkah berikutnya, apa mereka bisa memasuki pendidikan militer atau kembali menyiapkan diri.

READ  TMMD 128 Gebang Kejar Sanitasi Layak, Warga Pasar Rawa Mulai Menatap Hidup Lebih Sehat

 

Kodam I/Bukit Barisan membutuhkan prajurit untuk memperkuat satuan, terutama di ranah teritorial. Tapi kebutuhan organisasi tak boleh menggeser prinsip seleksi yang bersih.

 

“Pantukhir bukan sekadar formalitas. Ia adalah titik akhir dari proses panjang dan awal dari perjalanan baru bagi yang terpilih.”