Demi Pelajar, Loreng Melawan Maut: Menjinakkan Amukan Sungai di Pelosok Nias

NIAS SELATAN, WasantaraPos.com – Di tepian Sungai Susua, maut seolah selalu mengintai di balik debit air yang meninggi. Selama bertahun-tahun, SMP Negeri 5 Mazo hidup dalam ancaman nyata: erosi yang terus menggerogoti daratan dan banjir yang siap menelan ruang kelas kapan saja. Namun, minggu ini, pemandangan di Desa Tafulu berubah drastis.

​Bukan kepanikan yang terlihat, melainkan barisan seragam loreng yang bergerak cepat.

​Ini bukan operasi perang, namun napasnya tetap sama: operasi penyelamatan. Personel Satgas Bakti TNI untuk Rakyat turun ke lapangan, menantang lumpur dan arus sungai yang liar. Dengan otot yang beradu dengan kerasnya batu dan kawat, mereka merakit “benteng” sepanjang 85 meter.

READ  Reuni di Bawah Langit Wira Bhuana: Misi Kesiapan dan Jejak Masa Lalu

​Bagi para pelajar SMP, kehadiran prajurit loreng di tengah ancaman erosi adalah sebuah oase. Di bawah tatapan tajam para prajurit yang tak kenal kompromi dengan cuaca, bronjong tersebut disusun bak perisai baja.

Tak ada ruang bagi keraguan. Setiap kawat ditarik kencang, setiap batu diposisikan presisi, memastikan bahwa tidak ada lagi air yang berani menjamah ruang kelas.

READ  Plat Deker Dikebut, TMMD 128 Gebang Kunci Akses Desa dari Ancaman Banjir

​”Kami tidak datang untuk sekadar membangun. Kami datang untuk menuntaskan ancaman,” tegas Kepala Penerangan Kodam I/Bukit Barisan, Kolonel Inf Sandy SIP. Baginya, loreng yang mereka kenakan adalah simbol taruhan nyawa dan dedikasi.

​Kini, suara cemas akan banjir yang dulu membayangi setiap jam pelajaran telah diredam. Dinding bronjong itu berdiri sebagai saksi bisu keberanian prajurit TNI.

READ  Lima Sumur Bor Rampung Dibangun TMMD di Gebang, Warga Kini Nikmati Air Bersih

Di sekolah itu, ketenangan murid bukan lagi sebuah kebetulan, melainkan hasil dari tangan-tangan loreng yang memilih bertarung melawan alam demi menjamin masa depan generasi muda Nias.

​Di Nias Selatan, loreng bukan lagi sekadar seragam. Ia adalah pelindung. Ia adalah jaminan bahwa meski alam mengamuk, ada negara yang berdiri di garda terdepan untuk menghalaunya.