Di Hadapan Buruh, Prabowo Subianto Klaim Kemenangan Berkat Dukungan Pekerja

JAKARTA, WasantaraPos.com — Presiden Prabowo Subianto berdiri di hadapan ribuan buruh dalam peringatan May Day 2026 di Monumen Nasional, Jumat, 1 Mei 2026. Di panggung itu, ia menyampaikan terima kasih dan sekaligus klaim politik: dirinya menjadi presiden berkat dukungan kaum pekerja.

“Hari ini adalah hari perjuangan kaum buruh. Saya ucapkan terima kasih… saya merasa jadi presiden karena dukungan kaum buruh, kaum tani, kaum nelayan,” ujar Prabowo di hadapan massa.

Pernyataan itu bukan sekadar basa-basi seremonial. Di momentum Hari Buruh, Prabowo menegaskan posisi pemerintahannya: berpihak pada kelompok pekerja dan masyarakat bawah. Ia menyebut dukungan buruh sebagai fondasi politik yang mengantarkannya ke tampuk kekuasaan.

READ  Jembatan TMMD 128 di Pasar Rawa Hampir Rampung, Progres Capai 98 Persen

Prabowo juga menekankan komitmen pemerintahannya untuk membela rakyat yang masih hidup dalam tekanan ekonomi. “Kami tak akan gentar, tak akan menyerah, tak akan ragu-ragu untuk membela kepentingan rakyat Indonesia,” katanya.

Namun, klaim keberpihakan itu datang di tengah sorotan publik terhadap berbagai kebijakan ketenagakerjaan yang masih menuai kritik. Sejumlah kelompok buruh dalam beberapa waktu terakhir menuntut perbaikan upah, penghapusan sistem outsourcing, hingga perlindungan kerja yang lebih kuat.

READ  Deru Bomag Penantang Amblas Desa Pasar Rawa

Dalam pidatonya, Prabowo menyebut pemerintah telah mengambil sejumlah kebijakan yang disebutnya membela buruh selama setahun terakhir. Ia tak merinci kebijakan tersebut, tetapi menekankan arah politik pemerintah tetap berpihak pada pekerja.

Di sisi lain, Prabowo membawa simbol perjuangan buruh ke panggung kekuasaan. Ia memastikan pemerintah telah menetapkan Marsinah sebagai pahlawan nasional.

Tak hanya itu, ia juga berencana meresmikan Museum Perjuangan Buruh yang dinamai “Museum Marsinah” di Desa Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur, dalam waktu dekat.

READ  Medan, Di Bawah Bayang-Bayang Kegagalan Infrastruktur Listrik

Langkah ini dibaca sebagai upaya merawat ingatan kolektif tentang perjuangan buruh dan sekaligus memperkuat legitimasi politik di hadapan basis pekerja.

Di tengah gemuruh peringatan Hari Buruh, pidato Prabowo menegaskan satu hal: relasi antara kekuasaan dan buruh tetap menjadi arena tarik-menarik. Dukungan di masa lalu diakui. Janji ke depan kembali ditegaskan. Pertanyaannya, seberapa jauh janji itu akan terwujud.