Merajut Titian Harapan di Atas Aliran Sungai Lolomoyo

NIAS, wasantarapos.com – ​Suara deru mesin molen dan hantaman linggis beradu dengan gemercik air sungai di Dusun I, Desa Lolomoyo Tuhemberua, Kecamatan Gunungsitoli Barat. Di bawah langit Kota Gunungsitoli yang hangat pada Rabu, 5 Agustus 2026, denyut pembangunan infrastruktur berdetak kencang.

​Para prajurit TNI berseragam lapangan tampak bahu-membahu dengan warga setempat, bergelut dengan adukan semen dan kerikil. Hari itu, pengerjaan konstruksi jembatan modular sepanjang 30 meter tersebut memasuki babak krusial: pengecoran bagian bawah abutmen tepi dekat.

​Titik ini menjadi fondasi utama yang akan menentukan kokohnya struktur jembatan penyeberangan yang berdiri di atas bentangan sungai di Nias tersebut. Meski progres secara keseluruhan baru menginjak angka 12,2 persen, semangat di lapangan tak sedikitpun mengendur.

READ  Di Pondok Kayu Itu, Tawa Prajurit dan Warga Pecah di Tengah TMMD

​Urat Nadi Keselamatan Anak-anak Sekolah

​Bagi warga setempat, kehadiran jembatan ini bukan sekadar proyek fisik biasa. Ia adalah jawaban atas doa yang telah lama dipanjatkan.

​Selama bertahun-tahun, warga—terutama anak-anak sekolah yang hendak menuntut ilmu—harus bertaruh nyawa menyeberangi sungai tanpa jembatan. Setiap kali musim hujan tiba dan debit air meningkat, perjalanan menuju ruang kelas berubah menjadi sebuah pertaruhan yang membahayakan keselamatan.

​Kini, melalui program “Bakti TNI untuk Rakyat” yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto, ketakutan itu perlahan-lahan mulai disingkirkan. Jembatan modular ini diproyeksikan untuk menghubungkan Desa Lolomoyo Tuhemberua dengan Desa Lolowonu Niko’otano melalui ruas jalan strategis antardesa.

READ  Jalan dan Jembatan Dibuka, TMMD 128 Ubah Akses Warga Pasar Rawa

​Gotong Royong Lintas Satuan

​Pembangunan jembatan ini dikerjakan secara masif dan terpadu. Tidak tanggung-tanggung, kekuatan lintas satuan dikerahkan ke lokasi: mulai dari personel Yon TP 903/Baluseda, Yon TP 905/TS, Yonzipur 1/DD, hingga Babinsa Koramil 01/Gunungsitoli Kodim 0213/Nias.

​Dukungan alat berat berupa excavator, mesin molen, hingga peralatan manual seperti cangkul dan artco beroperasi tanpa henti. Di balik kerja keras tersebut, terlihat jelas tradisi gotong royong yang melebur antara prajurit loreng hijau dan masyarakat sipil.

​Kapendam I/Bukit Barisan, Kolonel Inf. Sandy, S.I.P., menegaskan bahwa pembangunan jembatan modular ini merupakan wujud nyata komitmen TNI AD untuk menghadirkan negara hingga ke pelosok daerah.

​”Pembangunan jembatan ini bukan sekadar menghadirkan infrastruktur, tetapi juga membuka akses yang lebih aman dan layak bagi masyarakat,” ujar Kolonel Sandy.

“Melalui program pembangunan infrastruktur yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto, TNI ingin memastikan kehadiran negara benar-benar dirasakan masyarakat, khususnya dalam mendukung akses pendidikan, mobilitas warga, dan pertumbuhan ekonomi di daerah.”

​Dengan rampungnya tahapan pengecoran abutmen ini, satu per satu benteng isolasi di perbukitan Gunungsitoli mulai runtuh. Jembatan modular itu kelak tidak hanya menyatukan dua desa, tetapi juga merajut kembali rasa aman, melancarkan roda ekonomi, dan mengantar anak-anak Nias menuju masa depan dengan langkah yang jauh lebih pasti.