editor by :
* Kiyai Khalifah Dr Muhammad Sontang Sihotang, S.Si, M.Si.
- Mantan Dosen Fakultas Ilmu Keperawatan / Kedokteran Universitas Indonesia d/h Salemba -Jakarta Pusat.
- Mantan Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi-Cempaka Putih-Jakarta Pusat.
- Mantan Manager EDIC (Engineering Data Information & Communication) Engineering Centre Fakultas Teknik Universitas Indonesia-Depok, Jawa Barat.
– Data Mining, Mitigation & Disaster Management – - Mantan Pensyarah Fizik Kuantum – Fizik Kejuruteraan / Teknologi Maritim Universitas Malaysia Terengganu (UMT) Kuala Terengganu Malaysia, Malaysia.
- Fellowship @ Institute of Sciences in Medicine / ISM (Medical Image Processing & Computing) – Salzburg – Austria.
- Training Scholarship VLIR (Vlaamse Interuniversitaire Raad) / Flemish Interuniversity Council – Dewan Antar-Universitas Flandria- Brussels – Begium, in Medical Physics Radiation (Radiation Protection) @ Free Hospital University, Brussels, Ghent University, Leuven University, Antwerp University, Belgium.
- Kepala Laboratorium Fisika Nuklir USU-Medan.
- Dosen Filsafat, Universitas Pembangunan Panca Budi (UNPAB) – Medan
- Pemerhati Masalah Kualitas Air / Fokus Kajian Mulai Dari Rawatan Air (Water Treatment Sehingga Menjadi Water Purification) ; Air Kotor -> Air Bersih – > Air Minum &
Air Terapi - Pemenang INOVASI PECIPTA 2013 di Malaysia dari Mulai Hari Inovasi UMT 2012 sampai ke Tingkat Kebangsaan 2013 (Malaysian Universities)
- Pemegang Patent Sederhana Tentang Aplikasi Produk Inovasi Air Berkalsium dari Hasil Tata Kelola Limbah Pesisir.
Sekapur Sirih Selayang Pandang
Dunia hari ini tidak hanya diancam oleh konflik geopolitik, perang siber, atau perebutan hegemoni ekonomi. Bagi Indonesia, ancaman eksistensial itu justru sering kali lahir dari rahim bumi sendiri: gempa bumi megathrust, tsunami, erupsi gunung berapi yang tertidur, hingga anomali iklim radikal.
Ketika kita berbicara tentang Pertahanan Negara, benak kita kerap dikungkung oleh imaji tank, jet tempur, dan barisan prajurit di tapal batas. Namun, jika esensi terdalam dari pertahanan adalah “menjaga keberlangsungan hidup bangsa,” bukankah kepunahan massal akibat ketidaksiapan menghadapi bencana alam memiliki dampak kehancuran yang setara—bahkan lebih absolut—daripada invasi militer?
Makalah ilmiah populer ini akan membedah bagaimana para filosof dunia memandang esensi negara dan cara menjaganya, mendekatinya secara fundamental lewat teori pertahanan modern, menurunkan aplikasi konkretnya dalam mitigasi bencana, serta menelusuri akar terdalamnya melalui Kajian Metafisika.
1. Falsafah: Pandangan Filosofis tentang Negara dan Menjaga Jiwa Rakyat
Untuk memahami mengapa mitigasi bencana sejatinya adalah operasi pertahanan negara, kita harus melacak kembali alasan mendasar mengapa manusia sepakat mendirikan sebuah negara. Para pemikir Kontrak Sosial memberikan argumen yang sangat kokoh mengenai hal ini:
-
Thomas Hobbes (1588–1679): Perjanjian demi Selamat dari Kematian Tragis
Dalam mahakaryanya Leviathan, Hobbes berpendapat bahwa tanpa negara, manusia hidup dalam Status Naturalis—sebuah kondisi yang “kotor, brutal, dan pendek” karena setiap orang saling memerangi (homo homini lupus). Negara didirikan atas satu kesepakatan primordial: meraih keamanan dan menghindari kematian tragis. Bagi Hobbes, ancaman yang merenggut nyawa tidak hanya datang dari belati manusia lain, tetapi juga dari keganasan alam yang tak terprediksi. Negara gagal jika membiarkan rakyatnya mati massal secara tragis tanpa upaya perlindungan.
-
John Locke (1632–1704): Wali Hak Hidup dan Hak Milik
Locke memandang negara bukan sebagai penguasa absolut, melainkan sebagai “wali tepercaya” (trustee) yang bertugas melindungi hak kodrati manusia: hak hidup (life), kebebasan (liberty), dan hak milik (property). Ketika bencana alam datang menyapu sebuah kota, ketiga hak dasar ini runtuh seketika. Maka, menjaga negara dalam perspektif Locke adalah tindakan aktif mempertahankan hak hidup rakyat dari segala bentuk ancaman, baik antropogenik (buatan manusia) maupun kosmik (alamiah).
-
Sun Tzu & Carl von Clausewitz: Seni Bertahan Sebelum Badai Datang
Dalam filsafat strategi, pertahanan terbaik adalah kerentanan yang diminimalkan. Clausewitz menekankan pentingnya Center of Gravity (pusat kekuatan). Bagi negara kepulauan, ketangguhan masyarakat (community resilience) adalah pusat kekuatan tersebut. Jika masyarakatnya rapuh terhadap bencana, maka seluruh struktur pertahanan negara akan kolaps dari dalam sebelum musuh luar sempat menyerang.
2. Kajian Metafisika: Hakikat Keberadaan, Kosmologi, dan Relasi Ruang-Waktu
Untuk memperdalam analisis ini, kita harus melompat ke wilayah Metafisika—cabang filsafat yang mempertanyakan hakikat realitas terdalam di balik yang tampak secara fisik. Bagaimana mitigasi bencana dan pertahanan negara dilihat dari kacamata metafisika?
A. Metafisika Alam (Kosmologi): Bumi sebagai Entitas yang ‘Menjadi’ (Becoming)
Secara metafisik, bencana alam bukanlah bentuk “kemarahan” atau “anomali,” melainkan sifat dasar dari alam semesta yang terus bergerak (dynamic being). Merujuk pada pemikiran Herakleitos tentang Panta Rhei (semua hal mengalir dan berubah), bumi adalah entitas yang terus berproses mencari keseimbangan baru melalui lempeng yang bergeser dan magma yang meletup.
Ontologi Bencana:
Bencana menjadi “bencana” hanya ketika ia bersinggungan dengan eksistensi manusia yang tidak siap. Secara metafisik, gempa bumi adalah realitas objektif bumi yang sedang bernapas; sedangkan “korban jiwa” adalah konsekuensi dari kegagalan manusia membaca ritme eksistensi bumi tersebut.
B. Metafisika Ruang dan Waktu (Immanuel Kant)
Kant menyatakan bahwa ruang dan waktu adalah bentuk intuisi murni yang ada dalam rasio manusia untuk memahami dunia. Dalam konteks pertahanan, negara adalah entitas politik yang mengklaim sebuah Ruang (wilayah kedaulatan) di atas geopolitik yang rawan secara geologis (seperti Ring of Fire).
Secara metafisik, menjaga negara berarti menjaga keselarasan antara eksistensi manusia di dalam Ruang tersebut dengan Waktu (siklus geologis berkala). Mitigasi bencana adalah upaya metafisik manusia untuk menyelaraskan ritme hidupnya dengan ritme kosmos yang masif.
3. Fundamental & Teori: Redefinisi Ancaman di Era Geopolitik Baru
Secara fundamental, konsep keamanan telah bergeser dari State-Centric Security (keamanan semata-mata melindungi kedaulatan wilayah dan rezim dari serangan militer) menuju Human Security (keamanan manusia yang mencakup keselamatan fisik, pangan, dan lingkungan).
Teori yang relevan di sini adalah Teori Sekuritisasi (Copenhagen School), yang menyatakan bahwa suatu isu dapat diangkat menjadi ancaman eksistensial jika taruhannya adalah kelangsungan hidup kelompok. Bencana alam di era modern harus di-sekuritisasi: diperlakukan dengan tingkat urgensi yang sama dengan ancaman invasi militer.
+-----------------------------------------------------------------+
| KONTINUM PERTAHANAN NEGARA MODERN |
+-----------------------------------------------------------------+
| LAPIS 1: MILITER --> Mengadang Ancaman Kedaulatan Fisik |
| LAPIS 2: SIBER & EKONOMI--> Mengamankan Jaringan & Logistik |
| LAPIS 3: INSANI (ALAM) --> Mitigasi Bencana & Keselamatan Jiwa|
+-----------------------------------------------------------------+
Jika Lapis 3 (Insani/Alam) jebol akibat mitigasi yang buruk, maka energi, anggaran, dan fokus Lapis 1 serta Lapis 2 akan terkuras habis untuk operasi pemulihan krisis. Akibatnya, ketahanan nasional secara keseluruhan melemah secara drastis.
4. Aplikasi Berdampak: Mentransformasi Mitigasi Menjadi Doktrin Pertahanan
Bagaimana mengejawantahkan seluruh perdebatan filosofis dan metafisik ini ke dalam kebijakan konkret yang berdampak nyata? Kita harus mengubah mitigasi bencana dari yang semula dianggap sebagai “tindakan karitatif/sosial” menjadi Doktrin Pertahanan Nasional yang Integratif.
A. Total Disaster Preparedness (Sistem Pertahanan Rakyat Semesta Bencana)
Jika dalam pertahanan militer kita mengenal Komponen Cadangan, maka dalam pertahanan berbasis keselamatan, kita harus membangun Komponen Cadangan Kesiapsiagaan. Sekolah, kampus, dan desa harus dilatih secara periodik dan terstruktur untuk membaca tanda-tanda alam, melakukan evakuasi mandiri, dan mitigasi taktis. Ini adalah aplikasi nyata dari kontrak sosial Hobbes: rakyat berorganisasi secara semesta demi bertahan hidup.
B. Hard Defense Infrastructure (Benteng Geologis)
Negara wajib menerapkan aturan tata ruang dan standar bangunan tahan gempa (seismic engineering) secara absolut tanpa toleransi, khususnya untuk fasilitas publik dan pusat komando pertahanan. Pembangunan infrastruktur hijau (green infrastructure) seperti sabuk hijau mangrove di sepanjang pesisir rawan tsunami bukan sekadar konservasi lingkungan, melainkan pembangunan “benteng luar” pertahanan negara.
C. Digital Early Warning System berbasis Kecerdasan Buatan (AI)
Pertahanan modern bertumpu pada keunggulan informasi. Investasi pada sistem sensor bawah laut (tethered buoys), radar cuaca canggih, dan pemanfaatan AI untuk memprediksi pola pergerakan tanah yang terintegrasi ke dalam sistem komunikasi gawat darurat nasional adalah implementasi teknologi pertahanan yang menyelamatkan jutaan nyawa dalam hitungan detik.
Kesimpulan: Menjaga Negara adalah Menjaga Keselarasan Eksistensi
Menjaga negara tidak melulu berbicara tentang bagaimana kita siap mati di medan laga demi selembar bendera. Menjaga negara adalah tentang bagaimana negara memastikan bahwa rakyatnya tidak mati sia-sia terkubur tanah akibat ketidaksiapan kolektif dalam membaca alam.
Secara filosofis, legitimasi tertinggi sebuah negara runtuh ketika ia gagal melindungi hak hidup warganya. Secara metafisik, manusia tidak bisa menghentikan takdir bumi yang bergerak, namun manusia diberikan rasio untuk beradaptasi dan menyelaraskan diri. Dengan menempatkan mitigasi bencana sebagai pilar utama dalam strategi pertahanan negara, kita sedang memenuhi mandat terdalam dari para pemikir dunia: menjaga rumah bersama agar tetap tegak berdiri, berdaulat, dan tangguh menghadapi tantangan zaman maupun ujian alam.(ms2)






