MEDAN, WasantaraPos.com – Di sudut panggung utama Lapangan Merdeka, Selasa malam (30/6/2026), Letkol Arm Delli Yudha Adi Nurcahyo tak sekadar duduk sebagai tamu undangan. Komandan Kodim 0201/Medan itu tampak mengamati dengan tajam.
Di hadapannya, bukan hanya deretan kepala daerah se-Indonesia yang hadir untuk RAKERNAS XVIII APEKSI, melainkan sebuah pertaruhan besar: menjaga marwah budaya Melayu di tengah gemerlap modernisasi kota.
Malam itu, di puncak Gelar Melayu Serumpun (GEMES) ke-9, Dandim Delli Yudha menjadi saksi bagaimana sejarah dan kekuasaan berbaur.
Kehadirannya di tengah para petinggi Forkopimda dan Sultan Deli ke-XIV, Tuanku Sultan Mahmud Arya Lamantjitji Perkasa Alam, bukan sekadar simbol formalitas.
Sebagai pemegang tongkat komando kewilayahan, keterlibatan Delli dalam gelaran ini menegaskan bahwa stabilitas keamanan di Medan tak melulu soal ketertiban fisik, namun juga soal menjaga akar budaya agar tetap kokoh.
Saat Walikota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, dengan tegas menyatakan bahwa “kemajuan kota harus berjalan beriringan dengan pelestarian budaya leluhur,” kamera-kamera beralih menangkap ekspresi para petinggi di kursi depan.
Letkol Arm Delli Yudha tampak mengangguk, sebuah gestur yang menyiratkan dukungan penuh terhadap narasi bahwa identitas Melayu adalah benteng karakter Medan yang multikultural.
Bagi Delli, keterlibatan militer dalam perhelatan budaya sebesar ini adalah bagian dari upaya merawat “sejarah yang hidup”.
Di tengah dinamika RAKERNAS APEKSI yang mengundang ratusan kepala daerah, kehadiran Dandim 0201/Medan di garda terdepan menjadi penegas bahwa instrumen keamanan negara memiliki kepentingan yang sama dengan masyarakat adat: memastikan bahwa derap pembangunan di Medan tidak mencabut akar sejarah dari tanahnya sendiri.
Malam itu, ketika seruan penutupan dikumandangkan, sang Dandim menyaksikan bagaimana budaya Melayu kembali menemukan panggungnya.
Di Lapangan Merdeka, di bawah pengawalan yang ketat namun elegan, Delli Yudha ikut memastikan bahwa warisan Kesultanan Deli tak sekadar menjadi sejarah yang membeku, melainkan identitas yang tetap disegani di tengah arus modernitas yang tak terbendung.












