MEDAN, WasantaraPos.com — Klaim aman dari Perum Bulog soal stok Minyakita di Medan berhadapan dengan kenyataan di lapangan: harga tak sepenuhnya tunduk pada aturan.
Wakil Direktur Utama Bulog, Marga Taufiq, menyebut ketersediaan minyak goreng rakyat itu terkendali saat meninjau Pasar Sei Sikambing, Sabtu. Distribusi, kata dia, terus dijaga agar tak terjadi kelangkaan.
Namun, sidak yang berlanjut ke Pusat Pasar Medan mengungkap realitas berbeda.
Dari tiga toko penerima pasokan, hanya Toko Bintang Mas yang menjual di bawah HET, Rp15.500 per liter. Dua toko lain mematok Rp18.000 hingga Rp19.000, melewati batas resmi Rp15.700.
Spanduk Bulog terpampang jelas: HET Rp15.700. Tapi angka di etalase berkata lain.
Ketegangan bahkan sempat muncul di Jalan Veteran. Tim Bulog disebut bermarga K, berdebat dengan pemilik toko yang enggan memasang pengumuman HET. Persoalannya bukan sekadar spanduk, tapi kepatuhan.
Menurut pantauan, toko tersebut bahkan diingatkan: tanpa pemasangan spanduk HET, pasokan Minyakita bisa dihentikan. Ancaman itu menjadi sinyal tegas, distribusi dikaitkan langsung dengan kepatuhan terhadap aturan harga.
Pedagang punya argumen sendiri. Ia mengaku juga menjual minyak curah dan premium dengan harga berbeda. Satu spanduk HET, menurutnya, berpotensi membingungkan konsumen.
Di Pasar Sukaramai, pola serupa terlihat lebih gamblang. Tiga kios di lantai dua menjual Minyakita di angka Rp.18.000 per liter.
Pedagang menyebut harga tak hanya ditentukan pasokan, tetapi juga biaya tambahan yang kini mereka tanggung sendiri, mulai dari bongkar muat hingga ongkos tak terduga lainnya.
“Dulu saat operasi pasar, biaya itu tidak ada. Sekarang semua dibebankan ke kami,” ujar seorang pedagang.
Namun, tak semua pedagang melenceng. Di sekitar Pasar Sukaramai dan Pasar Akik Medan, Toko Naga Mas justru menjual Minyakita tepat di angka HET: Rp15.700 per liter.
Praktik ini menunjukkan bahwa kepatuhan masih mungkin, meski tidak merata.
Pemimpin Wilayah Bulog Sumatera Utara, Budi Cahyanto, mengatakan pihaknya telah mengajukan tambahan pasokan 1,6 juta liter ke produsen. Targetnya, distribusi kembali stabil menjelang Iduladha.
Tapi di pasar, stabilitas bukan sekadar soal barang tersedia. Ia juga soal disiplin harga, yang hingga kini masih dinegosiasikan, diam-diam, di balik meja dagang.






