LANGKAT, WasantaraPos.com — Selesai membangun jalan desa, mereka tidak langsung beristirahat. Di Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, malam justru menjadi “jam kerja” lain bagi prajurit.
Di bawah program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128, personel dari Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan 907/Dewa Shahdan mengalihkan aktivitas dari proyek fisik ke ruang kecil di musala: mengajari anak-anak mengaji.
Selepas Magrib hingga Isya, lantai musala berubah menjadi kelas sederhana. Anak-anak duduk bersila, membawa Iqro yang mulai lusuh.
Di depan mereka, empat prajurit bergantian membimbing bacaan: David Ananta Ramadhan, Rodil, Agung Pratama, dan Muhammad Al Fadri.
Tidak ada papan tulis. Tidak ada metode formal. Yang ada hanya pengulangan, koreksi pelan, dan kesabaran yang tampak tak habis.
“Di sini kami tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga membangun manusia,” kata David, singkat.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi di Pasar Rawa, maknanya menjadi konkret. Satu huruf dibetulkan. Satu bacaan diulang. Satu anak dipanggil maju.
Kegiatan itu berlangsung konsisten setiap malam sejak TMMD dibuka pada 22 April 2026. Bahkan setelah para prajurit menyelesaikan pekerjaan fisik di siang hari yang menguras tenaga.
Di sela-sela pembelajaran, mereka tetap melaksanakan salat berjamaah dan memberikan tausiah singkat. Tidak panjang, tetapi cukup untuk menutup hari dengan ritme yang sama: tenang dan teratur.
Program TMMD biasanya identik dengan jalan, jembatan, dan drainase. Namun di Pasar Rawa, ia merambat ke ruang yang tidak terukur: kemampuan membaca Al-Qur’an, disiplin, dan kebiasaan belajar anak-anak desa.
Di Mushola itu, tidak ada laporan progres dalam meter atau persentase. Tidak ada grafik capaian.
Yang ada hanya suara pelan anak-anak mengeja huruf demi huruf, yang setiap malam perlahan menjadi lebih lancar.






