Medan, Di Bawah Bayang-Bayang Kegagalan Infrastruktur Listrik

Energi, Headline101 Dilihat

MEDAN, WasantaraPos.com – Jalan Pandu, jantung perdagangan mesin diesel di Medan, berubah menjadi etalase keputusasaan pada Sabtu, 23 Mei 2026.

Di tengah teriknya cuaca, barisan warga tak lagi berburu barang kebutuhan pokok, melainkan menyerbu toko-toko generator set (genset).

Mereka sedang “berinvestasi” pada kemandirian, sebuah tamparan keras bagi penyedia layanan listrik yang kian tak bisa diandalkan.

​Sejak Jumat sore, Medan lumpuh. Pemadaman listrik masif yang kini telah melewati ambang batas 24 jam bukan lagi gangguan teknis skala kecil.

Ini adalah potret kegagalan sistemik. Kelumpuhan menyebar bak wabah: dari permukiman padat di Tembung dan Delitua hingga kawasan denyut nadi ekonomi kota seperti Pusat Pasar, Pasar Sambas, Pasar Sukaramai, hingga kini menjalar ke Pasar Titikuning. Semuanya terbenam dalam gelap.

READ  Segelas Kopi, Komunikasi Prajurit dan Warga Desa Lancar

​Kematian Pelan-pelan Ekonomi Pasar

Bagi para pedagang di pusat-pusat perdagangan tersebut, pemadaman ini bukanlah sekadar masalah lampu mati.

Ini adalah ancaman nyata terhadap keberlangsungan modal. Di lokasi-lokasi ini, listrik adalah oksigen bagi rantai pasok.

​Tanpa aliran listrik selama lebih dari 24 jam, sistem pendingin (refrigeration) mati total. Komoditas sensitif seperti daging, ikan, dan sayur-mayur segar yang menjadi tumpuan ekonomi pedagang pasar terancam membusuk.

Di Pasar Titikuning, yang menjadi salah satu simpul distribusi penting, suasana pasar yang biasanya hiruk-pikuk kini berubah menjadi senyap dan mencekam.

“Dagangan kami ini barang hidup, kalau listrik mati, nasib kami ikut mati,” ujar seorang pedagang dengan nada putus asa.

​Kerugian yang diderita bukan main-main. Para pedagang kini menanggung beban ganda: hilangnya omzet karena pembeli enggan datang ke pasar yang gelap, ditambah kerugian barang rusak yang tak bisa lagi dijual.

READ  18 Ribu Ayam Mati Gegara Listrik Padam, Peternak Abdya Gugat PLN ke Pengadilan

Di saat mereka berjibaku mempertahankan harga, birokrasi energi justru membiarkan mereka menanggung beban kegagalan pasokan sendirian.

​Alarm yang Terabaikan

Dayat, seorang warga Delitua, mewakili jeritan masyarakat luas. Ia terpaksa merogoh kocek Rp 4 juta, harga yang ia nilai sudah “dipermainkan” pasar, hanya untuk menyalakan kulkas dan mengisi daya ponsel. Baginya, genset adalah satu-satunya instrumen untuk menjaga sisa-sisa kewarasan.

​”Listrik adalah hak dasar, tapi kami dipaksa menjadi penyedia listrik sendiri dengan biaya mahal,” ujar Dayat ketus.

​Di kawasan pasar-pasar utama, situasi lebih tragis. Jaringan komunikasi yang ikut tumbang membuat wilayah tersebut seolah terisolasi dari pusat informasi.

READ  Apel Hari ke-10 TMMD 128: Target Dikejar, Disiplin Diperketat

Tidak ada kejelasan, tidak ada solusi tanggap darurat yang nyata, yang ada hanyalah janji-janji yang menguap bersama padamnya lampu.

​Di Jalan Pandu, deru mesin genset yang bersahutan sore ini bukanlah simbol kemajuan. Ia adalah suara protes atas ketidakmampuan negara menyediakan pasokan listrik yang stabil.

Pemadaman ini adalah alarm nyaring yang menunjukkan rapuhnya sistem kelistrikan di Medan.

Jika hari ini warga dan pedagang terpaksa membakar bahan bakar ekstra demi hak dasar yang seharusnya mereka terima, pertanyaannya bukan lagi tentang siapa yang harus bertanggung jawab, melainkan: seberapa lama lagi kota ini akan terus terpuruk dalam ketidakpastian.

Sementara birokrasi energi seolah hanya menjadi penonton di balik meja kantor yang mungkin masih terang benderang?