Menjahit Kebhinekaan di Medan: Sinergi INTI dan Ulama di Hari Idul Adha

MEDAN – Suasana ruang tamu kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumatera Utara di Jalan Sei Batanghari, Medan, Selasa siang itu jauh dari kesan kaku. Di luar, aroma sisa perayaan Idul Adha 1447 H masih terasa. Di dalam, tawa sesekali pecah menyambut kehadiran Ketua Umum Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Pusat, dr. Indra Wahidin.

​Bukan agenda protokoler yang ia bawa. Indra datang membawa misi silaturahmi untuk mempertebal sinergi. Pertemuan ini diterima langsung oleh Ketua PWNU Sumut, Dr. H. Marahalim Harahap, M.Hum., dan Rektor Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), Prof. Dr. Hj. Nurhayati, M.Ag.

READ  Jalan Pasar Rawa, dari Lumpur ke Akses Baru

​Di ruang tamu utama itu, Marahalim duduk berhadapan langsung dengan Indra. Posisi duduk yang intim ini membuat percakapan mengalir tanpa sekat. Sesekali gurauan persahabatan muncul di sela obrolan, memecah suasana formal yang biasanya menyelimuti pertemuan antar-tokoh organisasi.

​Dalam diskusi yang cair itu, momentum Idul Adha menjadi refleksi penting. Keduanya sepakat bahwa hari raya kurban adalah penguat nilai-nilai kepedulian, pengorbanan, dan kebersamaan dalam membangun bangsa serta umat.

dr ​Indra Wahidin secara khusus menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang selama ini terjalin dengan baik, serta kepedulian PWNU Sumatera Utara terhadap masyarakat luas. Ia menyadari INTI tidak bisa berdiri sebagai menara gading.

READ  Diplomasi Warung Kopi: Cara Satgas TMMD Langkat Jinakkan Hoaks dan Redam Curiga

​”Kami tidak bisa bekerja sendiri,” ujar Indra. Bagi dia, dukungan ulama adalah jaminan agar Sumatera Utara tetap kondusif bagi seluruh warga, melintasi sekat etnis dan agama.

​Marahalim yang duduk tepat di seberang meja menyimak dengan saksama. Ia memuji transformasi INTI yang belakangan lebih aktif turun ke akar rumput.

Bagi Marahalim dan Nurhayati, keterlibatan UINSU dalam skema pendidikan bersama INTI adalah jalan untuk membumikan konsep Islam Rahmatan Lil ‘Alamin, sebuah wajah Islam yang inklusif, menebar kasih sayang, dan jauh dari bayang-bayang radikalisme.

READ  Viral! MTQ Medan 2026 Rp1,6 Miliar Tuai Kritik, Venue Berlumpur hingga Pengunjung Jatuh di Area Parkir

​Pertemuan itu berakhir dengan jabat erat dan komitmen kuat. Kedua pihak berharap, INTI dan NU dapat terus bersinergi menjadi pelopor keharmonisan, persaudaraan, serta memberikan kontribusi nyata bagi umat dan bangsa.

​Di Sei Batanghari, siang itu, politik identitas tampak kalah oleh secangkir teh dan diskusi tentang masa depan anak bangsa. Sebuah pesan kuat dikirimkan dari Medan: bahwa kebhinekaan bukan sekadar jargon, melainkan sesuatu yang terus dijahit melalui langkah nyata.