Misi “Mengetuk Pintu” Pangdam Hendy di Sibolga

SIBOLGA, WasantaraPos.com – Langit Sibolga pada Kamis siang itu terik, namun suasana di dalam Aula Gupala, Makorem 023/KS, terasa lebih dingin. Di depan barisan prajurit dan PNS yang duduk dalam diam, Panglima Komando Daerah Militer I/Bukit Barisan, Mayjen TNI Hendy Antariksa, berdiri tegak. Ia tidak sedang membahas taktik tempur atau strategi pertahanan konvensional.

Pagi itu, Hendy bicara soal hal yang paling fundamental namun sering luput: soal hati rakyat.

​Kunjungan kerja ke jalan Datuk Hitam No. 1 tersebut sebenarnya rutin. Namun, ada urgensi yang terselip dalam retorika sang jenderal bintang dua ini.

READ  Jalan Baru di Pasar Rawa, dan Pelan-Pelan Pulihnya Rasa Terhubung

Di era di mana interaksi antara militer dan warga kerap kali berada di bawah sorotan tajam, Hendy mencoba menarik garis tegas: prajurit teritorial adalah “etalase” TNI di mata masyarakat.

​”Sebagai satuan kewilayahan, kalian adalah napas di tengah rakyat,” ujar Hendy dengan nada suara yang datar namun menekan. Ia mewanti-wanti bawahannya agar tidak menjadi menara gading yang jauh dari realitas sosial.

READ  TMMD 128 Langkat: Kemanunggalan Diracik dari Warung ke Lapangan

Baginya, pelanggaran, sekecil apa pun bentuknya, itu adalah noda yang akan mengikis kepercayaan publik yang susah payah dibangun.

​Di Makorem 023/KS, Hendy tidak hanya menebar instruksi. Ia sempat menorehkan pesan di buku kenangan. Tulisan tangannya rapi, ringkas, dan nyaris seperti sebuah pengingat bagi dirinya sendiri: “Tetaplah menjadi prajurit teritorial yang dicintai rakyat. Bekerjalah dengan tulus dan ikhlas.”

​Kunjungan itu berakhir dengan ritual seremonial yang lazim: pertukaran cenderamata dengan Danrem 023/KS Kolonel Inf Iwan Budiarso dan penanaman pohon di halaman markas. Sebuah simbol yang klise, namun bagi Hendy, merupakan pengingat tentang proses panjang menjaga kedaulatan di tanah Sibolga.

READ  Dandim 0203/Langkat: TMMD Bukan Sekadar Bangun Dinding Beton, Tapi Mengembalikan Hak Hunian Manusiawi

​Di balik seragam loreng yang dikenakan para prajurit hari itu, pesan Hendy tampaknya ingin menggeser paradigma: bahwa di medan tugas teritorial, senjata paling ampuh bukanlah peluru, melainkan ketulusan yang dirasakan warga di lapangan.