Nama Dirjen Bea Cukai Terseret Dakwaan Suap Rp61 Miliar, Menkeu Purbaya: Kita Lihat Nanti

Headline, Nasional, News28 Dilihat

JAKARTA, WasantaraPos.com — Nama Direktur Jenderal Bea dan Cukai Djaka Budi Utama ikut terseret dalam pusaran kasus dugaan suap impor yang menjerat petinggi Blueray Cargo Group.

Namun Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa belum mau buru-buru mengambil langkah pencopotan.

“Kalau statusnya sudah clear, baru kita ambil tindakan,” kata Purbaya di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin, 11 Mei 2026.

Pernyataan itu muncul setelah nama Djaka disebut dalam surat dakwaan perkara dugaan suap dan gratifikasi senilai puluhan miliar rupiah yang sedang disidangkan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta Pusat.

READ  Jasa Raharja Ajak Guru SMA Dharmawangsa Medan Jadi Agen Perubahan Keselamatan Berlalu Lintas

Purbaya menilai proses hukum masih berada pada tahap awal karena baru berasal dari keterangan terdakwa dan dakwaan jaksa.

“Ini kan baru satu sisi tertuduh ya, tersangka menceritakan apa yang ada, yang dialamin,” ujarnya.

Dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi, pimpinan Blueray Cargo, John Field, disebut menyalurkan uang suap sekitar Rp61 miliar kepada sejumlah pejabat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

READ  Infrastruktur TMMD Langkat Dikebut: Jalur Tani Rampung Dua Hari Lagi, Saluran Irigasi Mulai Dialiri Air

Selain uang, terdakwa juga diduga memberikan fasilitas hiburan dan barang mewah senilai Rp1,8 miliar.

Kasus itu menyeret sejumlah pejabat Bea Cukai, antara lain Direktur Penindakan dan Penyidikan Rizal, Kasubdit Intelijen Sisprian Subiaksono, serta Kepala Seksi Intelijen Kepabeanan I Orlando Hamonangan Sianipar. Ketiganya disebut akan diproses dalam berkas terpisah.

Nama Djaka muncul dalam bagian dakwaan yang mengungkap adanya pertemuan sejumlah pejabat Bea Cukai dengan pengusaha kargo di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, pada Juli 2025. Dalam pertemuan itu, Djaka disebut hadir bersama Rizal, Sisprian, dan Orlando.

READ  Prajurit Satgas TMMD Sholat Jumat Bersama Warga Gebang

Jaksa menduga pertemuan tersebut berkaitan dengan upaya meloloskan kepentingan bisnis Blueray Cargo Group dalam aktivitas impor dan kepabeanan.

Kasus ini menjadi sorotan karena menyeret pejabat tinggi di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, lembaga yang selama beberapa tahun terakhir terus menjadi sasaran kritik terkait praktik mafia impor dan dugaan permainan di pelabuhan.