Aplikasi Model Hepta Helix : Kolaborasi Mitra Riset Spesifik UGM, USU, CV. Bina Syifa Mandiri & Media Dorong Inovasi Industri Herbal Nasional

Sinergi Empat Pilar Akademisi, Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI) & Media untuk Peningkatan Kualitas Produk Kesehatan Berbasis Bahan Alam & Thibbun Nabawi

 

YOGYAKARTA, Kamis, 6 Agustus 2026, Kampus FMIPA UGM, Yogyakarta – Penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi dan dunia usaha & dunia industri menjadi langkah strategis dalam mendorong hasil riset agar tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi berkembang menjadi inovasi yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan dunia usaha.

Semangat tersebut mengemuka dalam perbincangan akademik dan penjajakan kolaborasi yang berlangsung di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Kamis, 6 Agustus 2026, yang mempertemukan unsur FMIPA UGM, Universitas Sumatera Utara (USU) & dunia usaha/industri melalui CV Bina Syifa Mandiri.

Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada (FMIPA UGM) menjadi tuan rumah perbincangan strategis yang mempertemukan lintas pemangku kepentingan akademisi, pengusaha, industri & media. Pertemuan ini menghadirkan Dekan FMIPA UGM, Prof. Dr. Eng.Kuwat Triyana, M.Si ; staf dosen/peneliti Fisika Universitas Sumatera Utara (USU) sekaligus kandidat Doktor Prodi Fisika UGM (by research), Muhammad Sontang Sihotang, S.Si., M.Si.; serta Muhammad Bachroni Direktur CV. Bina Syifa Mandiri (Perusahaan manufaktur yang bergerak dalam pengembangan produk herbal, obat tradisional, suplemen kesehatan berbasis bahan alam, dan kosmetik herbal).

Diskusi yang berlangsung hangat di Kampus FMIPA UGM ini berfokus pada pembentukan Tematik Fokus Action Group (FGA) sebagai aplikasi nyata dari model kolaborasi mitra Hepta Helix. Kerjasama ini mengintegrasikan peran Perguruan Tinggi (Dekan FMIPA UGM & peneliti fisika FMIPA USU) dengan Pihak Pengusaha & Industri (CV. Bina Syifa Mandiri) untuk melakukan Riset &  Pengembangan (R&D) yang berkesinambungan hingga tahap komersialisasi produk (R&D/C).

Langkah R&D/C ini akan dikawal langsung oleh kolaborasi tim peneliti, yaitu Muhammad Sontang Sihotang (USU) bekerjasama dengan Pakar Fisika Material, Biomaterial (Hydroxyapatite), &  Nanoteknologi UGM, Prof. Dr. Eng. Yusril Yusuf, S.Si., M.Si., M.Eng. sebagai calon pembimbing riset/promotor s-3.Beliau terkenal atas penemuan otot buatan “Lengan Gatotkaca” berbahan elastomer kristalin cair serta jabatannya sebagai Kepala LPPT (Laboratorium Penelitian & Pengujian Terpadu) UGM.

Beliau juga menerima penghargaan Internasional Glenn H. Brown Prize pada 2006 & pernah diundang dalam pertemuan peraih Nobel di Lindau, Jerman, pada 2011, Aktif meriset pengubahan limbah biogenik laut menjadi bioceramic untuk kebutuhan medis gigi dan tulang.

Jadi sangat relevan R&D/C apabila diterapkan dalam DUDI agar  Penguatan riset Fisika Material ini dengan Bahan Alam ini sebagai salah satu contohnya nanti akan memanfaatkan potensi local wisdom yang ada yakni Limbah Tulang Ikan yang akan di produksi sehingga akan menghasilkan Kalsium Fosfat sebagai Precursor nantinya ditujukan untuk meningkatkan mutu produk, standarisasi, mutu ekstraksi & daya saing produk herbal unggulan pabrikan berskala Nasional  & Internasional.

KomitmenRespons Pemangku Kepentingan (Stakeholders)

Fokus Utama Kerjasama Riset (Kolaborasi dalam Perspektif Model Hepta Helix)

Melalui kesepakatan awal ini, ke-4 pilar stakeholder berkomitmen untuk menyusun program riset terintegrasi yang mencakup:

  • Pengembangan R&D Bahan Alami                                            :  Karakterisasi fisik & fisiko-kimia bahan baku herbal, madu racikan, serta minyak alami menggunakan instrumentasi fisika modern.
  • Peningkatan Kualitas & Standardisasi Produk                     : Formulasi & pengujian stabilitas produk obat tradisional, suplemen kesehatan, serta kosmetik herbal agar memenuhi standar industri
  • Hilirisasi & Komersialisasi (R&D to Commercialization) : Menjamin hasil inovasi riset perguruan tinggi diproduksi secara massal oleh CV. Bina Syifa Mandiri di fasilitas manufakturnya di Klaten/Yogyakarta.
READ  Perkuat Semangat Kebangsaan, Perhimpunan INTI dan Lemhannas RI Siap Kolaborasi Strategis di Tahun 2026

Seluruh pihak optimistis bahwa Model Hepta Helix yang padu, harmonis & sinergis ini akan menjadi percontohan ideal kemitraan strategis antara Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH), Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI) & Media di Indonesia.

Model Hepta Helix memandang bahwa inovasi tidak dapat dibangun oleh satu aktor saja, melainkan 7 Stake Holder ie ; Perguruan tinggi, Pemerintah, Dunia usaha, Masyarakat, Komunitas, Media & pemangku kepentingan lainnya (NGO) atau yang lainnya (Filantropi) perlu membangun ekosistem yang saling melengkapi.

Dalam konteks pertemuan di FMIPA UGM ini, universitas & industri ditempatkan sebagai bagian penting dari ekosistem inovasi, dengan perguruan tinggi berperan dalam penguatan basis ilmiah & pengembangan teknologi, sedangkan industri membawa kebutuhan riil pasar, pengalaman produksi, serta peluang hilirisasi &  komersialisasi.

Dalam merangkumkan hasil FGA diantara stake holder yang ada dapat dirangkumkan oleh tim media dengan wawancara eksklusif imajinernya secara global meliputi ;

Muhammad Sontang Sihotang menyampaikan bahwa “Posisi peneliti USU secara mandiri yang akan menjalin kolaborasi kiranya dapat diharapkan tidak hanya sebagai mitra akademik, tetapi juga sebagai bagian dari proses pengembangan riset yang menjawab kebutuhan nyata industri”.

“Riset perguruan tinggi akan menjadi lebih bermakna ketika mampu menjawab kebutuhan nyata dunia usaha. Karena itu, kolaborasi USU, UGM & Industri perlu dibangun secara bertahap, berbasis kebutuhan, data ilmiah & target pengembangan produk yang jelas.” imbuhnya

Menurutnya lagi, “Keterlibatan peneliti mandiri Program Studi Fisika FMIPA USU bersama mitra dari Program Studi Fisika UGM diharapkan dapat menghasilkan pengembangan riset yang memiliki landasan ilmiah kuat sekaligus membuka peluang Hilirisasi yang dimulai dengan Program Ajakan Industri agar berkenan untuk Kolaborasi Mitra yang Harmonis, Sinergis, Terpadu & Bekesinambungan”.

UGM : Riset Harus Bergerak Menuju Hilirisasi

Dekan FMIPA UGM Prof. Dr. Eng. Kuwat Triyana, M.Si. menyambut positif gagasan kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri tersebut.

Menurutnya, “Hubungan akademik dengan dunia industri merupakan bagian penting dalam membangun ekosistem riset yang berkelanjutan. Perguruan tinggi memiliki kekuatan pada pengetahuan, metodologi, laboratorium &  sumber daya peneliti, sedangkan industri memiliki pengalaman dalam proses produksi, kebutuhan pasar, serta pemahaman terhadap pengguna.”

“Semangat tersebut sejalan dengan arah FMIPA UGM yang mendorong inovasi agar tidak berhenti sebagai produk intelektual, tetapi dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat & mendukung kemandirian teknologi (berdampak)”.

“Kolaborasi seperti ini sangat baik karena mempertemukan kebutuhan industri dengan kompetensi akademik. Yang penting adalah bagaimana riset dirancang secara konkret, memiliki target yang jelas, &  secara bertahap dapat diarahkan menuju hilirisasi.”

Prof. Kuwat juga menambahkan lagi ” kemungkinan pengembangan hubungan yang berkesinambungan, harmonis & sinergis serta terpadu, terutama apabila hasil R&D nantinya menunjukkan prospek untuk dikembangkan lebih lanjut menuju komersialisasi (R&D/C).

READ  Sepekan TMMD 128 Gebang: Sumur Bor Dikebut, Harapan Air Bersih Mulai Terwujud

Industri : Riset Diharapkan Memperkuat Kualitas &  Daya Saing Produk

Dari Riset menuju Produk yang Bernilai Tambah

Dari pihak industri pula, Muhammad Bachroni sebagai Direktur CV. Bina Syifa Mandiri menyambut baik adanya komunikasi & silaturahmi akademik tersebut.”Sebagai mitra Perguruan Tinggi Model Hepta Helix industri kami memiliki kebutuhan terhadap pengembangan & peningkatan kualitas produk berbasis bahan alam yang alami (natural product). Karena itu, dukungan riset dari perguruan tinggi menjadi penting bagi kami untuk memperkuat research and development (R&D), pengujian, karakterisasi material / produk, peningkatan mutu, serta pengembangan inovasi yang dapat diarahkan menuju tahap commercialization (R&D/C).

 

Menurutnya, “Dunia industri membutuhkan dukungan ilmu pengetahuan & teknologi serta wawasan untuk memastikan produk yang dikembangkan memiliki kualitas, keamanan, konsistensi & daya saing produk serta berdampak”.

“Kami sangat terbuka terhadap kerja sama dengan perguruan tinggi. Industri memiliki kebutuhan yang nyata, sementara perguruan tinggi memiliki kemampuan riset & sumber daya akademik. Kalau keduanya dipertemukan dengan baik, insyaAlloooh dapat menghasilkan sesuatu yang saling menguntungkan.”

Ia menambahkan bahwa “Kerja sama tidak hanya diharapkan menghasilkan penelitian, tetapi juga dapat membuka ruang untuk Pengembangan Produk (Product Development) secara bertahap sesuai kebutuhan industri”.

“Dengan demikian, industri tidak hanya menjadi pengguna hasil penelitian, tetapi dapat berperan sejak awal dalam menentukan problem statement, kebutuhan teknologi, proses R&D / C, pengujian, sampai peluang hilirisasi &  komersialisasi”.

Membuka Ruang Kolaborasi Riset Berkelanjutan

Dari sisi akademik pula, Prof. Dr. Eng. Yusri Yusuf, S.Si., M.Si., M.Eng. “memberikan respons positif terhadap gagasan pengembangan riset kolaboratif yang mempertemukan USU, UGM & mitra industry walaupun secara mandiri inovasi ini, mudah-mudahan dapat di solidkan menjadi scoup institusi yang melembaga dan dapat di replikasi secara Nasional”.

“Kolaborasi tersebut dinilai memiliki prospek untuk dikembangkan secara berkelanjutan apabila terdapat kesesuaian antara kompetensi peneliti, kebutuhan industri, kelayakan ilmiah, serta peluang pengembangan & komersialisasi hasil riset berdampak”.

“Kolaborasi akan menjadi lebih kuat apabila masing-masing pihak memiliki kontribusi & tujuan yang jelas. Perguruan tinggi dapat memberikan penguatan ilmiah & teknologi, sementara industri memberikan konteks kebutuhan & peluang implementasi. Dari situ dapat dibangun R&D yang kemudian diarahkan pada pengembangan & komersialisasi secara bertahap sehingga menghasilkan R&D/C.”

“Pandangan tersebut memperkuat gagasan yang smart apabila  hubungan antara USU, UGM & Industri ini tidak berhenti pada satu kegiatan atau satu penelitian saja, tetapi dapat dikembangkan menjadi ekosistem riset & inovasi yang berkelanjutan, sinergis, harmonis & integrated”.

Empat Pilar yang Bertemu dalam Satu Ekosistem Inovasi

Pertemuan 6 Agustus 2026 tersebut memperlihatkan adanya titik temu empat kekuatan utama sisa nya 3 stake holder kekuatan lagi akan di implementasikan apabila akan di realisasikan ke pada penggunanan produk kepada masyarakat nantinya yang saling bermitra & berkolaborasi secara sepenuh hati yakni :

1.a. UGM – Kekuatan akademik & teknologi serta wawasan
FMIPA UGM menyediakan ekosistem keilmuan, kepakaran, fasilitas riset, serta jejaring akademik untuk mendukung pengembangan teknologi dan dampak sosial (impact factor).

READ  Skenario Mengeringkan Genangan Menahun

1.b. USU – Penguatan riset & sumber daya peneliti
Sebagai Peneliti Program Studi Fisika Biomaterial / Biokalsium / Hydroxyapatite (nano material/ nanoteknologi) FMIPA USU akan memiliki sumber daya peneliti yang dapat berkontribusi pada pengembangan kajian &  teknologi tepat guna berdampak khususnya dalam kajian & aplikasinya di Industri CV Bina Syifa Mandiri agar dapat meningkatkan kinerja / kualitas produk yang akan dihasilkan & digunakan sepenuhnya oleh masyarakat pengguna secara efisien & efektif & terjangkau.

2 & 3 CV Bina Syifa Mandiri – Kebutuhan industri & hilirisasi sebagai pelaku Dunia Usaha & Dunia Indusri (DUDI) 

Oleh karena itu, kolaborasi antara FMIPA UGM, FMIPA USU & CV Bina Syifa Mandiri diharapkan tidak hanya menghasilkan inovasi berbasis riset, tetapi juga memperoleh dukungan publik melalui penyebarluasan informasi yang akurat, edukatif &  inspiratif. Kehadiran media akan mempercepat proses hilirisasi & komersialisasi hasil penelitian sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat.”
Industri menghadirkan kebutuhan riil terhadap peningkatan kualitas produk, pengembangan R&D, peluang produksi, serta potensi komersialisasi menjadi R&D/C.

3. Media –Dalam kerangka Model Hepta Helix, media memiliki peran strategis sebagai sarana diseminasi, edukasi &  penguatan jejaring kolaborasi. Media menjadi jembatan yang menghubungkan hasil riset perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia usaha serta masyarakat luas.

Keempat unsur tersebut kemudian dipertemukan melalui kolaborasi riset sebagai komponen penting dalam Aplikasi Model Hepta Helix.

Menuju R&D, Hilirisasi & Commercialization

Pertemuan tersebut menghasilkan semangat bersama untuk melanjutkan komunikasi & penjajakan kerja sama secara lebih konkret.

Kedepan, kolaborasi diharapkan dapat dikembangkan melalui beberapa tahapan:

Identifikasi kebutuhan industri → perumusan masalah riset → penyusunan R&D → pengujian dan karakterisasi → validasi hasil → pengembangan prototipe / produk → hilirisasi → commercialization (R&D/C).

Dengan pola tersebut, riset diharapkan tidak hanya menghasilkan output akademik, tetapi juga outcome dan impact bagi industri & masyarakat.

Kerja sama ini sekaligus memperlihatkan bahwa Tridharma Perguruan Tinggi dapat diperkuat melalui hubungan yang nyata dengan DUDI (Dunia Usaha &  Dunia Industri, sehingga ilmu pengetahuan & teknologi serta wawasan berdampak / berimpact kepada masyarakat dapat bergerak dari ruang akademik menuju pemanfaatan yang lebih luas (IPTEKS).

Silaturahmi yang Menjadi Awal Sinergi Berkelanjutan

Pertemuan di FMIPA UGM tersebut berlangsung dalam suasana akademik yang hangat & penuh keterbukaan. Keempat pihak sama-sama memandang bahwa hubungan USU–UGM–Pengusaha – IndustriMedia memiliki potensi untuk dikembangkan secara lebih luas & berkelanjutan.

Silaturahmi ini diharapkan menjadi titik awal terbentuknya kerja sama riset yang sepadu, harmonis, sinergis, berkesinambungan & saling menguntungkan, sejalan dengan visi-misi & indicator kinerja IKU dan SDG’s dengan tetap mengedepankan kualitas ilmiah, kebutuhan industri, serta manfaat bagi masyarakat.

Pada akhirnya, semangat kolaborasi tersebut bukan sekadar mempertemukan empat institusi, tetapi membangun jembatan antara ilmu pengetahuan, teknologi, dunia usaha / industri &  kebutuhan masyarakat.

“Dari Silaturahmi, Menjadi Kolaborasi ; dari Riset, Menjadi Inovasi; dari Inovasi, Menuju Hilirisasi & Dampak (Program Sirkular Ekonomi melalui Pemanfaatan Potensi Zero Waste to Energi).” (ms2).