Cahaya di Lapangan Benteng: Merawat Toleransi di Medan

MEDAN, WasantaraPos.com – Malam di Lapangan Benteng, Medan, Sabtu (13/6/2026), tidak seperti biasanya. Di bawah langit yang bersih, ribuan umat Buddha bersimpuh dalam hening.

Di tengah kerumunan yang khidmat itu, tampak Komandan Kodim 0201/Medan, Letkol Arm Delli Yudha Adi Nurcahyo, bersama sang istri, Ny. Dita Delli. Mereka hadir, membaur dengan masyarakat, merayakan Hari Waisak dalam nuansa yang lebih dari sekadar seremonial.

​Peringatan Waisak tahun ini memang terasa istimewa. Bukan hanya karena ritual pelepasan pawai yang dipimpin Walikota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, namun karena spektrum hadirin yang datang.

READ  Ketika Dapur Menyatukan: Cerita Kecil dari TMMD di Langkat

Di panggung utama, deretan pejabat Forkopimda tampak berdampingan dengan para pemuka lintas iman—mulai dari MUI, MATAKIN, PHDI, hingga perwakilan PGI dan KWI.

​Ini adalah potret miniatur Indonesia yang jarang terekspos di tengah riuhnya politik lokal.

​”Kehadiran ini adalah pesan,” ujar seorang pengamat sosial yang hadir di lokasi. Baginya, kehadiran Dandim dan petinggi Forkopimda di tengah perayaan umat Buddha bukan sekadar formalitas protokoler. Ada upaya sadar untuk menjaga “garis pertahanan” toleransi di tengah dinamika masyarakat kota yang majemuk.

READ  MCK dan Sumur Bor Dikebut di Pasar Rawa, TMMD Sasar Akar Masalah Sanitasi

​Prosesi pelepasan pawai yang dilakukan Walikota Medan bersama Dandim dan Danlanud Soewondo, Marsma TNI Tiopan Hutapea, menjadi puncak malam itu.

Alih-alih meriah dengan sorak-sorai, pawai ini justru berjalan dalam keheningan—sebuah kontras yang menyentuh di pusat keramaian Medan. Para peserta berjalan menelusuri jalanan, membawa pesan refleksi diri di malam suci.

​Di sisi lain, kehadiran organisasi seperti WALUBI, INTI, dan PSMTI yang bahu-membahu dengan FKUB menunjukkan bahwa jaringan sosial di Medan telah mengakar kuat.

Bagi Letkol Arm Delli Yudha, stabilitas wilayah memang tidak bisa hanya diukur dengan ketertiban fisik.

​”Stabilitas adalah tentang bagaimana masyarakat merasa aman untuk merayakan keyakinannya,” begitu kira-kira intisari dari kehadiran aparat malam itu.

READ  Jatuhnya Arsitek Gizi Nasional

​Perayaan Waisak di Lapangan Benteng ini berakhir, namun pesan yang tertinggal cukup jelas: di Medan, perbedaan bukan untuk didebatkan, melainkan untuk dirayakan dalam sunyi yang khidmat.