Di Monas, Prabowo Tagih Legitimasi Buruh: Janji Lama, Ujian Baru

JAKARTA, WasantaraPos.com – Di bawah langit Jakarta yang terik, Prabowo Subianto berdiri di panggung Monas, Jumat (1/5/2026). Di hadapan ribuan buruh yang merayakan May Day, ia tak sekadar berpidato, ia menagih ingatan kolektif.

“Saya jadi presiden karena dukungan buruh, tani, nelayan,” katanya. Kalimat itu meluncur lugas, nyaris tanpa jeda.

Sebuah pengakuan politik yang jarang diucapkan seterang itu di ruang publik.

READ  TNI, Doa, dan Cara Baru Negara Hadir di Desa

Prabowo paham betul panggungnya. May Day bukan sekadar seremoni, melainkan arena legitimasi.

Di sana, janji diuji, keberpihakan ditakar. Maka ia pun mengulang komitmen yang kerap terdengar: pemerintahannya tak akan gentar membela rakyat kecil.

Tak akan ragu. Tak akan mundur.
Klaim pun disodorkan.

Setahun memimpin, kata dia, kebijakan telah diarahkan untuk membela buruh. Pernyataan yang terdengar mantap, meski, seperti biasa, publik akan mengukurnya dengan realitas upah, jaminan kerja, dan harga kebutuhan pokok.

READ  Saat Prajurit Bantu Anyam Keranjang di Pesisir Langkat

Di sela retorika, Prabowo menyisipkan simbol. Ia memastikan bulan ini akan meresmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, mengabadikan nama Marsinah, buruh yang menjadi ikon perlawanan.

Negara, tampaknya, ingin memeluk sejarah yang dulu kerap diabaikan.

Namun, seperti banyak pidato May Day sebelumnya, pertanyaan lama tetap menggantung: seberapa jauh kata-kata di podium menjelma kebijakan di lapangan?

Di Monas, tepuk tangan bergema. Tapi bagi buruh, yang lebih penting bukan gema, melainkan gema yang benar-benar berubah jadi kenyataan.