Minyakita Sempat Seret, Bulog Kini Klaim Distribusi Normal

Ekonomi, Headline, Medan485 Dilihat

MEDAN, WasantaraPos.com — Setelah sempat langka dan memicu kegelisahan di pasar, minyak goreng bersubsidi Minyakita kini diklaim kembali normal.

Wakil Direktur Utama Perum Bulog, Marga Taufiq, menyebut gangguan pasokan di Sumatera Utara sudah teratasi.

Pernyataan itu disampaikan usai inspeksi mendadak ke Pasar Sei Sikambing, Medan, Sabtu, 25 April 2026. Di tengah hiruk-pikuk transaksi, Marga memastikan harga masih bertahan di bawah batas tertinggi yang ditetapkan pemerintah.

“Kelangkaan sudah tidak terjadi lagi,” katanya singkat.

Namun, fakta di lapangan sebelumnya berkata lain. Dalam beberapa pekan terakhir, Minyakita sulit ditemukan.

READ  Pembongkaran Billboard Picu Protes, Istilah ‘Perangko Kilat’ Muncul di RDP Komisi 4

Kalaupun ada, harganya kerap melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET). Distribusi tersendat, pengawasan dipertanyakan.

Bulog berdalih lonjakan permintaan menjadi biang kerok. Tapi alasan itu tak sepenuhnya menjawab mengapa barang subsidi bisa menghilang dari pasar dalam waktu bersamaan.

Kini, Bulog mengklaim telah memperketat kontrol distribusi hingga ke tingkat pengecer. Janji lama yang kembali diulang.

READ  Sumur Bor TMMD Langkat: Dari Desa, Air Bersih Mengalir, Beban Warga Teratasi

Di sisi lain, beras SPHP disebut tetap mengalir lancar. Program stabilisasi harga ini masih menjadi penopang daya beli masyarakat bawah, setidaknya untuk sementara.

Bulog juga membawa kabar optimistis dari tingkat nasional. Cadangan beras pemerintah diklaim menembus 5 juta ton. Angka besar yang kerap dijadikan tameng saat gejolak harga muncul.

“Stok aman. Intervensi bisa dilakukan kapan saja,” ujar Marga.

Memasuki musim panen raya, Bulog bersiap menyerap gabah petani. Agenda rutin yang menentukan: menjaga harga di hulu, sekaligus memastikan pasokan di hilir.

READ  Ketum INTI Indra Wahidin Perkuat Arah Organisasi, Sugianto Kusuma Beri Masukan Strategis

Menjelang Iduladha, Bulog kembali melempar jaminan. Tidak akan ada gejolak berarti, katanya. Pengalaman Ramadan dan Idulfitri dijadikan rujukan.

Namun, pasar punya logikanya sendiri. Klaim stabilitas berulang kali diuji dan tak selalu terbukti.