Bara di PUD Pasar Medan: Dedi Harvisyahari Tabuh Genderang Perang, Ultimatum 7×24 Jam

Ekonomi, Headline165 Dilihat

MEDAN, WasantaraPos.com – Ruang pertemuan di kantor PUD Pasar Kota Medan mendadak menjelma menjadi ruang sidang terbuka. Bukan oleh hakim, melainkan oleh ratusan pedagang yang sudah habis kesabarannya.

Di barisan paling depan, Ketua Forum Pedagang Pasar Tradisional Kota Medan, Dedi Harvisyahari, berdiri dengan nada suara yang membakar semangat para pedagang.

​Dedi datang bukan untuk bernegosiasi basa-basi. Ia membawa mandat yang tajam: perbaiki pasar, atau uang retribusi berhenti mengalir.

​Suasana sempat meruncing, nyaris berujung bentrok fisik. Pemicunya adalah upaya manajemen PUD Pasar yang mencoba “bermain sandiwara” dengan melempar isu laporan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) setiap kali pedagang menuntut perbaikan fasilitas yang sudah hancur lebur.

READ  Bupati Dairi Lantik Pejabat di Sitinjo, Tekankan Integritas dan Tanggung Jawab Moral

​”Kami tidak mau dengar urusan internal kalian soal BPK. Itu urusan dapur Anda. Urusan kami adalah pasar yang aman dan layak untuk mencari makan,” tegas Dedi di hadapan jajaran manajemen yang tampak terpojok.

Bagi Dedi, membawa-bawa BPK hanyalah taktik pengalihan isu yang basi untuk menutupi ketidakmampuan manajerial.

Ultimatum Dedi: “Uang Kami, Hak Kami”

​Dedi Harvisyahari secara resmi melayangkan ultimatum 7×24 jam. Ini bukan sekadar gertakan. Dedi menegaskan, jika dalam sepekan ke depan pasar tetap dibiarkan reyot, ia akan menginstruksikan seluruh pedagang untuk menutup keran kontribusi dan retribusi.

​”Kami sudah tunaikan kewajiban, tapi fasilitas yang kami terima jauh dari kata layak. Jangan salahkan pedagang jika kami berhenti menyetor jika hak kami atas lingkungan yang aman terus diabaikan,” ucap Dedi dengan nada lugas.

READ  Satgas TMMD Kebut Sumur Bor di Gebang, Warga Tak Lagi Bergantung Air Keruh

Menuntut Kepala Sang Dirut

​Tak hanya soal infrastruktur, Dedi juga menelanjangi kepemimpinan di PUD Pasar. Ia secara terang-terangan mendesak Walikota Medan untuk segera mencopot Direktur Utama PUD Pasar. Di mata Dedi dan para pedagang, sang Dirut dinilai sebagai sosok yang “sok paten”, arogan, dan sama sekali tidak memahami denyut nadi pasar.

​Lebih jauh, Dedi menyebut manajemen saat ini lebih mahir dalam “adu domba” antar-pedagang ketimbang memperbaiki sistem pasar yang centang-perenang.

“Kami tidak mau dipimpin oleh orang yang tidak paham kerja dan hanya mengerti cara mengadu domba,” tambahnya.

READ  Di Aula Desa Pasar Rawa, Tentara Bicara Pancasila dan Bela Negara

Bola Panas di Meja Walikota

​Kini, bola panas sepenuhnya berada di meja Walikota Medan. Langkah tegas Dedi Harvisyahari dalam memimpin perlawanan ini telah memberikan ultimatum yang tak bisa diabaikan begitu saja.

​PUD Pasar Medan saat ini seperti bom waktu. Diamnya manajemen hingga berita ini ditulis seolah mengonfirmasi bahwa mereka tengah kebingungan menghadapi tekanan yang dikomandoi Dedi.

​Pasar adalah urat nadi ekonomi kota. Dan di bawah komando Dedi Harvisyahari, pedagang kini telah menegaskan: tidak ada lagi ruang bagi ketidakbecusan.

Medan sedang menunggu: Perbaikan nyata, atau kepala jajaran direksi yang harus jatuh?